Editorial: Haul Habib Saggaf dan Bukti Cinta Umat terhadap Ilmu
INTERKINI.CO, SIGI – Ribuan jamaah dari berbagai penjuru daerah, bahkan dari luar Provinsi Sulawesi Tengah, berduyun-duyun mendatangi Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo, Kabupaten Sigi, Ahad (13/7/2025).
Mereka menghadiri Haul ke-4 Almarhum Al-Habib Saggaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri ulama besar yang semasa hidupnya tak henti menyemai cahaya ilmu dan akhlak di tengah umat.
Momentum haul ini bukan sekadar tradisi tahunan atau seremoni spiritual. Ia adalah bentuk nyata dari cinta yang tak lekang oleh waktu, cinta yang melampaui ruang dan usia. Dalam suasana yang khusyuk dan penuh haru, ribuan hati berkumpul untuk mengenang, mendoakan, dan merenungkan kembali warisan keilmuan yang ditinggalkan oleh sosok ulama kharismatik yang selama 45 tahun memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia Timur Alkhairaat.
Habib Saggaf bukan hanya tokoh sentral dalam sejarah Alkhairaat, melainkan juga simbol peradaban ilmu yang hidup dan berkembang bersama denyut nadi umat. Ia adalah cucu dari Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, Sang Guru Tua, yang menjadi peletak dasar pendidikan Islam modern di kawasan timur Indonesia. Dalam posisinya sebagai Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf meneruskan estafet perjuangan dengan komitmen kuat terhadap pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.
Selama masa kepemimpinannya, Alkhairaat berkembang menjadi jaringan pendidikan Islam terbesar di kawasan timur Nusantara. Ribuan madrasah, puluhan pondok pesantren, rumah sakit, dan lembaga pendidikan tinggi berdiri dan beroperasi atas semangat pengabdian yang ditanamkan beliau. Ia bukan sekadar pengurus organisasi, tapi seorang mujahid ilmu yang memandang ilmu sebagai pondasi utama kemajuan umat dan bangsa.
Fenomena ribuan jamaah yang hadir dalam haul ini tak bisa dibaca hanya sebagai bentuk nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah refleksi spiritual yang dalam: bahwa umat Islam hari ini masih membutuhkan teladan ulama yang lurus, yang konsisten dalam membela ilmu dan umat tanpa pamrih kekuasaan dan popularitas.
Dalam dunia yang semakin bising dengan kebisingan pencitraan, Habib Saggaf memilih jalan sepi: jalan ilmu dan keteladanan. Jalan yang tak memerlukan panggung, tapi menjelma dalam ketekunan membina madrasah, menyapa santri, dan menyusun strategi pendidikan Islam yang membumi dan membebaskan.
Haul ini menjadi koreksi bagi kita semua: sejauh mana kita telah memuliakan ilmu dan ulama? Seberapa besar energi yang kita curahkan untuk meneruskan perjuangan mereka? Sebab jika haul hanya dijadikan agenda seremonial, maka kita kehilangan makna terdalam dari warisan beliau yakni keberpihakan total pada ilmu sebagai cahaya dan penyelamat umat.
Dalam setiap langkah hidupnya, Habib Saggaf menunjukkan bahwa ilmu yang diperjuangkan dengan keikhlasan akan hidup jauh lebih lama dari tubuh yang telah tiada. Ia tetap dikenang, bukan karena jabatannya, melainkan karena warisan ilmunya. Ia tetap dihormati, bukan karena kekayaannya, melainkan karena pengabdiannya. Ia tetap dicintai, karena ia memuliakan umat dengan ilmu.
Haul ke-4 ini, sekali lagi, menjadi pengingat bahwa para ulama seperti Habib Saggaf tidak pernah benar-benar pergi. Mereka abadi dalam amal jariyah, dalam setiap doa muridnya, dalam setiap halaman kitab yang mereka ajarkan, dan dalam setiap jejak lembaga pendidikan yang mereka bangun.
Bagi generasi muda Sulawesi Tengah, dan umat Islam pada umumnya, Haul ini adalah panggilan. Panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai keilmuan. Untuk kembali menjadikan ilmu sebagai panglima kehidupan. Sebab bangsa yang menghargai ulama dan ilmu adalah bangsa yang tidak akan kehilangan arah.
Dan hari ini, di tengah gelombang zaman yang kian tak menentu, kita sangat memerlukan cahaya seperti yang dibawa Habib Saggaf: cahaya ilmu, keteguhan moral, dan cinta tulus untuk umat.
Penulis: Muhammad Gasalele
Editor: Tim Redaksi Interkini.co




