DPRD Sigi Dorong Transformasi Festival Danau Lindu Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
INTERKINI.CO, SIGI — Anggota DPRD Kabupaten Sigi, Ferra, mendorong transformasi menyeluruh dalam pengelolaan Festival Danau Lindu (FDL), dari sekadar agenda tahunan menjadi instrumen strategis pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya di Kecamatan Lindu.
Ia menilai, pola penyelenggaraan yang selama ini masih bersifat sementara seperti pembangunan panggung yang selalu dibongkar pasca acara perlu segera diubah menjadi pendekatan yang lebih profesional, efisien, dan berkelanjutan.
“Setiap tahun kita mengeluarkan anggaran untuk hal yang sama. Ini perlu dievaluasi. Infrastruktur yang dibangun seharusnya bisa dimanfaatkan jangka panjang, bukan hanya beberapa hari saat festival,” ujar Ferra.
Panggung Permanen dan Infrastruktur Multifungsi
Ferra mengusulkan pembangunan panggung permanen dengan desain multifungsi dan berstandar event. Selain digunakan untuk FDL, fasilitas ini dapat dimanfaatkan sepanjang tahun untuk kegiatan seni budaya, pertunjukan lokal, edukasi, hingga agenda wisata lainnya. Hal ini juga diharapkan menjadi ruang ekspresi bagi masyarakat, khususnya komunitas anak muda dan komunitas seni, untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pembangunan fasilitas pendukung seperti area duduk penonton, sistem pencahayaan terlebih saat ini kawasan Lindu telah teraliri listrik serta sarana sanitasi dan aksesibilitas yang memadai. Penataan ini juga harus memperhatikan aspek lingkungan agar tidak mencemari Danau Lindu.
Dengan demikian, kawasan Danau Lindu dapat berkembang menjadi ruang publik yang aktif dan produktif, bukan hanya lokasi event musiman.
Penataan Zonasi dan Ruang Ekonomi Masyarakat
Dari sisi tata kelola kawasan, Vera mendorong penerapan sistem zonasi yang terencana, meliputi zona pertunjukan, zona UMKM, zona kuliner, zona parkir, serta ruang terbuka hijau. Penataan ini bertujuan menciptakan keteraturan sekaligus memastikan setiap pelaku ekonomi lokal memiliki ruang usaha yang jelas dan berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pasar yang telah dibangun di kawasan tersebut. Menurutnya, pasar tersebut seharusnya dapat beroperasi secara rutin, tidak hanya saat festival berlangsung. Jika dimaksimalkan, pasar ini dapat menjadi salah satu ikon ekonomi lokal, tempat wisatawan berbelanja kapan pun berkunjung, sehingga perputaran ekonomi masyarakat tetap berjalan di luar agenda FDL.
Selain itu, Ferra mengusulkan agar zona UMKM dikelola secara lebih profesional, melalui kurasi produk, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta penguatan branding produk lokal agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.
“UMKM tidak boleh hanya hadir saat festival. Harus ada sistem agar mereka bisa berjualan secara rutin, bahkan di luar momentum FDL,” jelasnya.
Model Pengelolaan Berbasis Komunitas
Sebagai langkah berkelanjutan, Ferra mendorong pembentukan badan pengelola kawasan yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat lokal, komunitas adat, serta pemuda. Model ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh warga setempat.
Menurutnya, masyarakat Kecamatan Lindu harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam pengembangan kawasan wisata. Pelibatan masyarakat lokal dinilai krusial karena mereka memiliki pemahaman mendalam terhadap kearifan lokal yang harus tetap dijaga dalam setiap proses pembangunan.
Penguatan Kalender Event dan Aktivitas Rutin
Selain festival utama, Ferra mengusulkan penyusunan kalender event tahunan berskala kecil hingga menengah. Kegiatan seperti pentas seni bulanan, pasar budaya, hingga festival kuliner lokal dinilai mampu menjaga daya tarik wisata sekaligus memastikan perputaran ekonomi tetap hidup.
“Kalau hanya mengandalkan satu festival, dampaknya terbatas. Harus ada aktivitas rutin agar ekonomi masyarakat terus bergerak. Kita tahu di Lindu banyak kreativitas masyarakatnya, khususnya generasi muda dan komunitas seni yang bisa terus tampil,” tambahnya.
Perencanaan Jangka Panjang dan Investasi Wisata
Sebagai anggota DPRD Sigi dari Partai Demokrat Daerah Pemilihan (Dapil) III Sigi yang mencakup Kecamatan Lindu, Ferra menegaskan pentingnya penyusunan masterplan kawasan sebagai dasar pengembangan jangka panjang. Perencanaan ini mencakup tata ruang, pengembangan infrastruktur, strategi promosi, hingga peluang investasi berbasis kearifan lokal.
Ia juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta maupun pemerintah pusat dalam pengembangan kawasan wisata berbasis alam dan budaya tersebut.
“Ini adalah dapil saya, sehingga sudah menjadi tanggung jawab untuk memastikan masyarakat Lindu bisa sejahtera. Festival harus menjadi pintu masuk bagi ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.
Dengan pendekatan yang lebih profesional, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang, Ferra berharap Festival Danau Lindu dapat berkembang menjadi ikon pariwisata Sulawesi Tengah yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Baca Juga: Lindu Menunggu Desain, Bukan Sekadar Janji Pariwisata
Penulis: a6/in
Editor: Redaksi Interkini.co
Artikel Terkait: Editorial: Kerja Bakti Tak Cukup, Danau Lindu Butuh Keputusan




