Bab 1 Langkah Pertama yang Tak Pernah Sederhana
“Setiap pendakian dimulai dari satu langkah kecil tapi ada yang lebih berat dari ketinggian: melangkah sambil membawa kenangan yang belum reda.”
Pagi itu dingin, tapi tidak menusuk. Lebih seperti selembar kabut yang belum ingin pergi, menyelimuti tanah yang akan kupijak dan pikiran yang belum sepenuhnya jernih. Namaku Bi’Ah. Tak ada yang terlalu istimewa dariku, kecuali mungkin caraku berjalan ke gunung seperti orang yang sedang mencari pintu pulang.
Hari ini, langkahku dimulai dari basecamp kecil di kaki Gunung Gawalise. Tak banyak suara. Hanya desir angin dan satu dua suara teman pendaki yang juga sedang menyiapkan tas dan diamnya masing-masing. Tas carrier-ku tidak terlalu berat. Tapi entah mengapa, hari itu rasanya aku memikul sesuatu yang tak terlihat sesuatu yang mengendap jauh di dalam: kerinduan, dan mungkin, doa-doa yang tak pernah selesai disebutkan.
Aku menatap ke arah atas, ke lereng hijau yang perlahan menjadi kabut. Ada jeda di dalam diriku. Seperti pertanyaan yang belum punya jawaban: untuk siapa sebenarnya aku naik ke gunung kali ini? Apakah untuk udara segar? Untuk menepi dari rutinitas? Atau… untuk mengenang sesuatu yang diam-diam tumbuh dan tak pernah benar-benar gugur?
Namanya tak kuucap, tapi bayangnya hadir seperti kabut tipis yang selalu mendahului langkah. Adelwes. Bukan hanya bunga. Bukan hanya nama. Tapi sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Sesuatu yang terasa dekat, tapi tak bisa kugenggam. Dan mungkin, justru karena itulah aku mendaki. Bukan untuk mencapai puncak, tapi untuk memahami diriku yang selama ini menyimpan terlalu banyak hal, tanpa pernah benar-benar membukanya.
Langkahku akhirnya benar-benar dimulai. Satu kaki di depan kaki lainnya, di antara kabut, tanah, dan bisikan pepohonan yang entah mengapa selalu terdengar seperti… suara ibuku ketika berdoa. Dan dalam diam itu, aku tahu: pendakian kali ini bukan hanya tentang ketinggian. Tapi tentang keberanian untuk melihat ke dalam, dan mungkin — tentang memaafkan sesuatu yang pernah tumbuh, lalu hilang.*
🕊️ Catatan Penulis:
Cerita ini adalah karya fiksi.
Tokoh, peristiwa, dan alur di dalamnya merupakan hasil imajinasi dan refleksi pribadi penulis.
Meskipun menggunakan nama tempat yang nyata seperti Gunung Gawalise, Batu Gantung, dan Kota Palu
semua itu hanya menjadi latar puitis bagi perjalanan batin tokoh fiksi bernama Bi’Ah.
Jika ada kesamaan dengan kejadian atau individu tertentu, itu semata kebetulan dan tidak dimaksudkan secara langsung.




