Ghibah: Dosa Lisan yang Sering Diremehkan
“Tahukah kamu apa itu ghibah? Yaitu kamu menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya.”
(HR. Muslim)
Dalam keseharian, tanpa sadar kita kerap membicarakan orang lain: membahas sikap teman, kesalahan tetangga, hingga aib saudara. Kadang dibungkus dengan kalimat, “Saya cuma cerita, bukan maksud menjatuhkan.” Padahal, itu bisa jadi ghibah dosa besar yang kerap dianggap sepele.
Allah Ta’ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 berfirman:
“…Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”
Ghibah adalah penyakit lisan, tapi juga penyakit hati. Ia lahir dari rasa iri, kesal, atau ingin terlihat benar. Ghibah sering dibenarkan dengan dalih “fakta”. Padahal, walau yang dikatakan benar, tetap haram jika membuat orang yang dibicarakan merasa tersinggung atau malu.
Mengapa Kita Ghibah?
-
Karena emosi belum terkelola
-
Ingin merasa lebih baik dari orang lain
-
Ingin mencari perhatian atau persetujuan dari orang lain
-
Kebiasaan dalam lingkungan yang permisif terhadap ghibah
Lawan Ghibah dengan Hikmah:
-
Diam saat godaan membicarakan orang lain muncul.
Diam adalah zikir orang cerdas. -
Pindahkan topik ke hal yang baik.
“Sudah yuk, bahas yang lain. Gimana tadi kajiannya?” -
Ingat akibatnya di akhirat.
Daging saudara sendiri… Apakah kita sanggup? -
Perbaiki niat dalam berbicara.
Kalau ingin menasihati, sampaikan langsung, bukan dibicarakan di belakang.
Mulut kita bisa menjadi jalan ke surga atau jerat ke neraka. Mari jaga lisan, karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).
Oleh Tim Redaksi interkini.co
Rubrik Dakwah & Hikmah




