BerandaSastra Reflektif

Pecinta Alam & Adelwes

Sebuah Cerita Filosofis Tentang Alam, Jiwa, dan Cinta yang Abadi

Di Antara Kabut dan Kenangan

Namaku Bi’Ah.
Tak banyak yang memanggilku begitu kecuali teman-teman lama di organisasi pecinta alam, lingkar sunyi yang tumbuh diam-diam di antara ilalang, kompas, dan nyanyian hening dari ketinggian.

Aku menempuh pendidikan di sebuah kampus di Kota Palu. Kota ini dikenal sebagai Kota Lima Dimensi karena jika kau berdiri dari titik yang tepat, kau bisa melihat laut, gunung, sungai, lembah, dan teluk. Dan jika kau lebih jeli, kau juga akan melihat kehilangan dan doa tinggal berdampingan, tanpa saling mengganggu.

Tapi cerita ini bukan tentang kota. Bukan juga tentang kampus. Ini tentang apa yang tumbuh diam-diam di dalam diriku, sejak aku memutuskan mendaki bukan hanya ke atas, tapi juga ke dalam.

Aku mendaki ke Gunung Gawalise, gunung yang menjulang tenang di barat kota. Anginnya menyimpan rahasia,
kabutnya menyembunyikan pertanyaan. Dan di antara itu semua, aku membawa satu tujuan: Batu Gantung.

Tempat itu nyata. Tapi bagi sebagian orang, ia hanya batu. Bagi pendaki sepertiku, ia adalah altar diam 
tempat seseorang meletakkan rindu yang tak sempat diucapkan.

Dan di sanalah…
nama itu hadir kembali: Adelwes.

Adelwes bukan sekadar bunga. Ia nama. Nama seorang perempuan yang samar dalam ingatan 
bukan karena aku lupa, tapi karena aku belajar untuk diam.

Banyak yang percaya, bunga edelweis adalah lambang cinta. Ia tumbuh di tempat tertinggi bukan karena ingin jauh dari tangan manusia, tapi karena ia diciptakan untuk dijaga, bukan untuk dimiliki.

Bagi para pendaki, bunga adelwes bukan sesuatu yang boleh dipetik, melainkan dikagumi dari kejauhan,
dan dirawat keberadaannya dengan penuh hormat seperti kenangan yang tak ingin dilukai.

Begitu pun cinta sejati. Bukan sesuatu yang harus dimiliki, melainkan sesuatu yang dirawat dalam diam,
dijaga dalam doa, dan cukup hadir… untuk membuat seseorang pulang ke dirinya sendiri.*

🕊️ Catatan Penulis:

Cerita ini adalah karya fiksi.
Tokoh, peristiwa, dan alur di dalamnya merupakan hasil imajinasi dan refleksi pribadi penulis.
Meskipun menggunakan nama tempat yang nyata seperti Gunung Gawalise, Batu Gantung, dan Kota Palu 
semua itu hanya menjadi latar puitis bagi perjalanan batin tokoh fiksi bernama Bi’Ah.

Jika ada kesamaan dengan kejadian atau individu tertentu, itu semata kebetulan dan tidak dimaksudkan secara langsung.

🌲 Panduan Membaca Cerita

Cerita ini terdiri dari beberapa bab. Bila kamu ingin mengikuti perjalanan Bi’Ah dari awal hingga akhir, berikut urutannya:

1. Prolog – Di Antara Kabut dan Kenangan
2. Bab 1 – Langkah Pertama yang Tak Pernah Sederhana
3. Bab 2 – Suara dari Batu Gantung
4. Bab 3 – Kota Lima Dimensi
5. Bab 4 – Turunan yang Tidak Turun
6. Bab 5 – Perempuan yang Tidak Lagi Dikenal Tapi Masih Didoakan
7. Bab 6 – Surat yang Tidak Pernah Dikirim
8. Bab 7 – Jejak yang Tak Pernah Hilang dari Tanah yang Pernah Dilewati
9. Bab 8 – Saat Gunung Telah Turun ke Dalam Diri
10. Bab 9 – Bintang-Bintang Tidak Pernah Turun Tapi Selalu Dilihat
11. Epilog – Jika Kau Menemukan Bunga Itu Lagi…

(Bab-bab berikutnya akan tayang setiap hari. Tandai halaman ini atau ikuti Interkini.co agar tak tertinggal langkah Bi’Ah.)

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.