
INTERKINI.CO , SIGI- Upaya membangun pertanian yang lebih maju dan terukur mulai digerakkan dari desa. Pemerintah Kabupaten Sigi, melalui inisiatif bertajuk SATU SIGI (Satu Terintegrasi untuk Sigi), memperkenalkan sistem digital yang dirancang untuk memperbaiki cara data pertanian dihimpun dan dimanfaatkan.
Sosialisasi program ini baru-baru ini digelar di Kecamatan Tanambulava, diprakarsai oleh Aldisyar, peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Kegiatan ini melibatkan kepala desa, BPD, penyuluh pertanian, tokoh masyarakat, hingga perwakilan kelompok tani.
Tujuan utamanya sederhana tapi penting: memastikan informasi pertanian bisa diakses dengan cepat, akurat, dan menyatu antarinstansi mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
“Dengan SATU SIGI, kita ingin agar data petani, musim tanam, hingga distribusi pupuk tidak lagi simpang-siur. Semuanya bisa terekam digital secara real-time. Harapannya, pelayanan jadi lebih cepat, kebijakan lebih tepat,” jelas Aldisyar di sela kegiatan, Jumat (27/6/2025).
Gagasan ini muncul dari keprihatinan yang kerap dirasakan para pelaku di lapangan: sulitnya data yang mutakhir dan minimnya integrasi antara program desa, kecamatan, dan dinas teknis. Lewat SATU SIGI, sistem ini diharapkan bisa menjembatani semua itu.
Camat Tanambulava pun memberi dukungan penuh. Menurutnya, program ini bisa menjadi titik balik bagi kecamatan agar tidak tertinggal dalam perkembangan digital.
“Kami berharap Tanambulava menjadi contoh. Kalau kita bisa satukan data dan semangat, kita bisa satukan solusi juga untuk petani,” ujarnya lugas.
Tak sekadar paparan, acara ini juga diisi dengan dialog terbuka mendengar langsung keresahan para penyuluh dan kepala desa, termasuk tantangan akses teknologi di beberapa wilayah.
Yang menarik, semangat para peserta cukup terasa. Banyak yang melihat SATU SIGI bukan sekadar proyek digital, tapi awal dari budaya kerja baru: lebih transparan, akuntabel, dan cepat merespons kebutuhan masyarakat desa.
Sebagai informasi, SATU SIGI sebelumnya juga diperkenalkan di Marawola Barat, tepatnya di Desa Taipanggabe. Responnya pun serupa: positif, tapi tetap menyisakan pekerjaan rumah, terutama soal kesiapan infrastruktur dan pelatihan SDM.
Transformasi digital memang tak bisa instan. Tapi dengan keterlibatan aktif dari masyarakat desa dan pemerintah lokal, jalan menuju pertanian yang lebih cerdas sudah mulai terbuka. (A6/*)




