BerandaPendidikanSastra Reflektif

Di Pusaran Bundanya — Edisi 3: Kain Sarung dan Bau Minyak Rambut

Kasih ibu sebagai universitas pertama, doa sebagai kurikulum abadi

“Kita tidak pernah benar-benar kehilangan ibu, selama ada yang masih membuat kita rindu untuk pulang.”


Aku temukan kain sarung Bunda masih tergantung di belakang pintu kamar. Warnanya telah pudar, benangnya mulai berbulu, tetapi lipatannya tetap rapi seolah ada tangan yang baru saja merapikannya, tangan yang kini hanya bisa kutemukan di dalam ingatan. Kain itu diam, tapi kehadirannya seperti sedang memanggilku untuk masuk kembali ke masa lalu, ke sebuah rumah yang tak lagi sama.

Aku mendekat perlahan, menempelkan wajah pada kain lusuh itu. Samar, masih tercium bau minyak rambut kelapa yang dulu melekat pada tubuhnya. Bau itu menembus hidung, lalu langsung menyusup ke dada, membangunkan ingatan yang sengaja kukunci rapat selama ini. Seperti pintu tua yang didobrak, kenangan pun masuk deras dan aku tak mampu menahannya.

Tiba-tiba aku merasa kecil kembali, seperti anak yang tersesat di dunia dewasa. Langit-langit kamar tampak lebih rendah dari dulu, atau mungkin rindu ini yang membuat segalanya mengecil, menekan, mendekap. Hening merambat di ruangan; yang terdengar hanya detak jantungku sendiri, dan di dalamnya seperti ada gema detak jantung Bunda yang sudah lama berhenti.

Aku bisa membayangkan jelas: Bunda duduk di sudut kamar itu. Sarungnya dililit pelan, rambut panjangnya disisir dengan sisir kayu bergigi renggang. Kadang ia bersenandung lirih, kadang bibirnya bergetar membaca ayat-ayat yang tak kupahami waktu itu. Kini aku sadar, setiap tarikan sisir, setiap lipatan sarung, setiap embusan napasnya adalah doa yang tidak pernah ditulis, ibadah yang tidak pernah diumumkan, kasih yang tak pernah menuntut balasan.

Aku memeluk kain itu erat-erat, wajahku tenggelam di lipatan yang kasar. Bibirku pecah mengucap, hampir tanpa suara:
“Bau ini masih ada, Bun…”
Dan kalimat pendek itu cukup untuk merobohkan pertahananku. Air mata pecah, jatuh deras, bukan sekadar menetes tapi mengalir. Tubuhku bergetar, tangisku pecah seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan padahal yang hilang bukan mainan, melainkan seluruh rumah tempat jiwaku berteduh.

Aku menangis bukan karena sedih semata, tapi karena penyesalan. Begitu banyak kata yang tak sempat terucap, begitu banyak terima kasih yang hanya kubisikkan dalam hati, begitu banyak pelukan yang kutahan karena merasa waktu masih panjang. Kini, hanya kain lusuh inilah yang bisa mendengar, hanya bau minyak rambut inilah yang bisa kuciumi, hanya benda-benda inilah yang tersisa sebagai saksi.

Terima kasih untuk pagi-pagi yang sunyi, Bun.
Untuk air hangat yang selalu siap di meja.
Untuk doa yang tak pernah ditulis, tapi meresap ke dalam tubuhku lewat sentuhanmu, lewat aroma rambutmu, lewat diam yang selalu menenangkan. Kini aku sadar, kasih sayangmu adalah bahasa pendidikan yang paling purba, paling tulus, dan paling tak tergantikan.

Orang lain mungkin melihat sarung ini tak lebih dari kain usang, atau minyak rambut itu sekadar bau lama yang melekat. Tapi bagiku, keduanya adalah bukti: seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap dalam serat kain, dalam aroma yang terus hidup, dalam detail-detail kecil yang dunia tak sempat menyingkirkan.

Dan di balik semua itu, aku juga belajar sesuatu: bahwa pendidikan sejati bukan hanya datang dari buku, dari ruang kelas, atau dari guru yang bersuara lantang. Ia juga datang dari keheningan seorang ibu, dari disiplin sederhana melipat kain, dari ketelatenan menyisir rambut, dari konsistensi doa yang tak pernah dipamerkan.

Bunda adalah universitas pertama, sarungnya adalah perpustakaan, bau rambutnya adalah laboratorium kehangatan. Jika dunia kini sibuk dengan teori dan teknologi, maka dari ibulah aku belajar inti kehidupan: kasih, kesabaran, dan keberanian untuk terus pulang pada nilai-nilai yang paling dasar.


Penutup

Seperti pada edisi-edisi sebelumnya, Dei kembali mengajarkan kita: kehilangan bukan berarti ketiadaan. Ibu tetap tinggal dalam pelukan masa kecil, dalam dapur yang tak pernah padam, dalam sarung lusuh dan bau rambut kelapa. Yang hilang hanyalah tubuh, tapi kasihnya tetap abadi: menuntun kita untuk selalu tahu arah pulang.

Namun di tengah zaman yang bergerak cepat, kita sering lupa bahwa pendidikan bukan semata-mata soal gelar atau deretan prestasi. Ada pendidikan yang lebih sunyi, yang diwariskan ibu tanpa papan tulis, tanpa ruang kelas, tanpa upacara. Ia hadir dalam kesabaran, dalam ketekunan menjaga hal-hal sederhana, dalam kasih yang diam-diam membentuk kita menjadi manusia.

Karena itu, bila masih ada ibu di rumah, peluklah ia sebelum terlambat. Dan bila ibu telah tiada, rawatlah warisannya dengan cara sederhana: dengan hidup yang penuh kasih, dengan kesetiaan pada nilai-nilai yang pernah ia tanamkan. Sebab pendidikan sejati tidak akan pernah hilang ia melekat pada darah, pada ingatan, pada arah pulang.

Baca Juga : Di Pusaran Bundanya – Edisi #1: Renungan untuk Perempuan yang Tak Ingin Lupa

Baca Juga : Di Pusaran Bundanya — Edisi #2: Suara dari Dapur Tua

Catatan Penulis:

Tulisan ini adalah karya sastra refleksi. Ia bersifat personal dan kontemplatif, bukan berita faktual, serta tidak dimaksudkan merujuk atau menyinggung pihak mana pun.

Hak cipta dilindungi. Dilarang menggandakan, menerbitkan ulang, atau memodifikasi isi tanpa izin tertulis dari redaksi interkini.co.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.