PendidikanSastra Reflektif

🌸 Di Pusaran Bundanya — Edisi #2: Suara dari Dapur Tua

Di dapur tua, Dei belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu terucap, tetapi hadir dalam api kecil yang tak pernah padam.

“Ada doa yang tidak bersuara, tapi mengepul dari uap nasi dan tangan yang retak-retak.”

Dapur itu masih sama.
Atap sengnya berkarat, dinding kayunya mulai reyot, tapi tungkunya masih menyimpan bara. Aku menginjak ubin yang sudah tak rata, dan aroma kayu terbakar menyapa hidungku seperti salam dari masa kecil.

Aku duduk di bangku kecil yang dulu kupakai saat belajar mengupas bawang. Di sanalah Bunda biasa duduk, mengaduk sayur daun kelor sambil sesekali menoleh ke arahku. Wajahnya tak selalu tersenyum, tapi selalu tenang. Dan suaranya… ah, suara itu, bahkan ketika tak bersuara, tetap bisa aku dengar sekarang.

“Dei, perempuan itu bukan hanya soal kuat, tapi tahu kapan harus melembut.”

Kalimat itu tidak terucap hari ini, tapi terdengar jelas seperti disiulkan angin dari celah dinding dapur tua. Dan aku tahu, itu bukan imajinasiku — itu adalah gema dari ribuan pagi yang kulewati bersama Bunda, dalam kesunyian yang penuh makna.

Aku meraba bekas-bekas uap di dinding, bekas tangan yang pernah mengangkat panci, memutar sendok kayu, membelah dunia di antara perut lapar dan doa panjang.

Kadang aku bertanya: mengapa Bunda tak pernah banyak bicara tentang cinta, tentang mimpi, tentang dunia luar?
Kini aku mengerti.

Bunda tidak sedang tidak tahu cara bicara. Ia hanya memilih caranya sendiri untuk menjelaskan: dengan memasak, dengan menanak rindu, dengan memberi makan sambil tak henti menyuapi jiwa.

Di dapur tua ini, aku menyadari:
Cinta tak selalu meledak. Kadang ia hanya berbisik lewat api kecil yang terus menyala.

Dan aku — Dei — adalah saksinya yang kini mencoba menyala, dari bara yang ditinggalkan seorang ibu.

Malam itu aku menuliskan sebuah kalimat di samping catatan lama yang masih menempel di balik pintu lemari:

“Aku ingin jadi perempuan yang tidak lupa, bahwa cinta ibu kadang tak bersuara — tapi mengepul dari dapur tua.”

✍️ Bersambung ke Edisi #3 pekan depan, dalam serial Di Pusaran Bundanya.

Catatan Penulis:
Tulisan ini adalah bagian dari serial fiksi reflektif berjudul Di Pusaran Bundanya, ditulis secara orisinal oleh redaksi interkini.co.
Tokoh, tempat, dan alur adalah rekaan semata. Jika ada kemiripan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk pada individu atau peristiwa nyata.

Hak cipta dilindungi. Dilarang menggandakan, menerbitkan ulang, atau memodifikasi isi tanpa izin tertulis dari redaksi interkini.co.

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.