Khanza Ufaira dan Hak Perempuan untuk Terus Bertumbuh
INTERKINI.CO — Dalam banyak masyarakat, perempuan kerap diajarkan satu hal sejak dini: merasa “cukup”. Cukup dengan peran domestik. Cukup dengan pencapaian yang tidak melampaui batas tertentu. Cukup dengan mimpi yang tidak terlalu tinggi. Dalam konstruksi sosial semacam ini, pertumbuhan perempuan sering kali dipandang sebagai risiko bagi keluarga, bagi stabilitas rumah tangga, bahkan bagi tatanan sosial itu sendiri.
Akibatnya, mimpi sering menjadi hal pertama yang diminta untuk dikorbankan.
Namun tidak semua perempuan menerima logika tersebut tanpa bertanya.
Khanza Ufaira Febrianti, S.H., M.H. memilih jalur yang berbeda. Ia tidak menantang sistem dengan slogan atau perlawanan terbuka. Ia melakukannya dengan cara yang lebih senyap: tetap berjalan. Pelan, sadar, dan konsisten meski harus bernegosiasi dengan waktu, peran sosial, dan struktur yang belum sepenuhnya memberi ruang setara bagi perempuan.
“Perempuan sering diajarkan bertahan, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk bertumbuh.”
Pendidikan sebagai Proses, Bukan Perlombaan
Tahun 2020, di tengah ketidakpastian global akibat pandemi Covid-19, Khanza menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Tadulako. Pada periode yang sama, banyak orang terpaksa menunda rencana hidupnya. Namun bagi Khanza, krisis tidak serta-merta menjadi alasan untuk berhenti merancang masa depan.
Ia melanjutkan studi Magister Hukum Bisnis sembari memasuki dunia kerja perbankan ruang profesional yang menuntut ketepatan, ketahanan, dan konsistensi. Selama dua tahun, ia menjalani peran ganda. Pada tahun pertama, ia aktif kuliah sambil bekerja. Tahun berikutnya, ia memilih mengambil cuti akademik.
Keputusan tersebut bukan refleksi kegagalan, melainkan kesadaran akan batas diri. Ia memahami bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kecepatan. Bahwa pendidikan bukan kompetisi waktu, melainkan proses pembentukan cara berpikir.
Ketika rencana untuk kembali fokus pada studi mulai disusun, kehidupan menghadirkan fase baru: pernikahan.
Dalam banyak konteks sosial, pernikahan masih sering diposisikan sebagai penanda “selesainya” ambisi perempuan. Di titik inilah banyak perempuan secara kultural terdorong untuk berhenti. Khanza memilih sebaliknya. Ia mengakhiri kontrak kerjanya di bank dan kembali menuntaskan pendidikan.
Tanpa dramatika. Tanpa justifikasi berlebihan. Pada 2024, ia menyelesaikan studi magisternya.
“Pendidikan perempuan tidak seharusnya berhenti karena perubahan status sosial.”
Akademisi Muda dan Etika Belajar Ulang
Selepas lulus, Khanza memasuki dunia akademik sebagai dosen tetap di STIA Panca Marga Palu. Tantangan baru pun muncul. Latar belakang keilmuannya adalah hukum, sementara institusi tempatnya mengajar berbasis administrasi publik.
Alih-alih memandang perbedaan disiplin sebagai hambatan, Khanza melihatnya sebagai konsekuensi intelektual. Ia menyadari bahwa menjadi akademisi bukan soal kepakaran yang beku, melainkan kesediaan untuk terus memperluas horizon pengetahuan.
Belajar ulang, baginya, bukan kemunduran, melainkan bagian dari integritas akademik.
Dunia pendidikan bukan ruang asing baginya. Ayahnya, Dr. Ahmad Sinala, S.Sos., M.Si., merupakan dosen di Universitas Tadulako (Untad), khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta di STIA Panca Marga Palu. Dari lingkungan inilah Khanza memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti pada gelar, melainkan membawa tanggung jawab sosial.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi masih ia simpan. Namun ia memilih memberi jeda. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh menjadi perlombaan simbolik, melainkan proses yang selaras dengan fase kehidupan.
“Gelar akademik bukan tanda selesai belajar.”
Perempuan dan Beban Sosial yang Tak Selalu Terlihat
Sejak remaja, Khanza terbiasa berada di ruang publik. Ia aktif dalam berbagai organisasi keagamaan, kesenian, kemahasiswaan, hingga organisasi ekstra kampus. Ia juga pernah menekuni olahraga menembak di bawah naungan Perbakin dan meraih prestasi tingkat daerah.
Kini, sebagai ibu dari satu anak dan istri seorang banker, ritme hidupnya berubah. Waktu menjadi lebih terbatas. Peran semakin berlapis. Namun keinginan untuk berkembang tidak pernah ia lepaskan.
Menurut Khanza, persoalan utama perempuan hari ini bukan semata soal kapasitas individual, melainkan sistem sosial yang masih menempatkan perempuan dalam dilema permanen: dituntut aktif, tetapi dibatasi; didorong produktif, tetapi dibebani sepenuhnya dengan kerja domestik.
Dalam sistem patriarki yang bekerja secara halus, perempuan kerap kehilangan dirinya perlahan tanpa disadari.
Jika perempuan berhenti berkembang, generasi berikutnya berisiko tumbuh tanpa teladan keberanian dan kemandirian.
“Pertumbuhan perempuan adalah investasi sosial, bukan ancaman bagi keluarga.”
Pesan Etis dari Pengalaman
Khanza tidak menawarkan kisah sukses yang instan atau romantis. Ia tidak menjual motivasi kosong. Narasinya justru lahir dari pengalaman yang dijalani secara reflektif.
Perempuan, baginya, berhak mengejar cita-cita tanpa harus meniadakan peran sebagai istri atau ibu. Bukan untuk membuktikan keunggulan, melainkan untuk menjaga keutuhan diri.
Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak menjadikan anak sebagai tempat menagih mimpi yang tertunda. Anak perlu diberi contoh tentang keberanian bertumbuh, bukan dibebani ekspektasi yang tidak mereka pilih.
Kepada para suami, ia menegaskan bahwa dukungan bukan bentuk kemurahan hati, melainkan tanggung jawab relasional. Kemajuan istri tidak mengurangi peran suami justru memperkuat fondasi keluarga.
“Istri yang bertumbuh tidak membuat suami kehilangan tempat.”
Epilog: Bertumbuh Tanpa Memadamkan Diri
Filosofi hidup Khanza sederhana: teruslah mengejar apa yang ingin dicapai. Tidak harus cepat. Tidak harus sempurna. Yang penting, tidak berhenti.
Kisah ini bukan tentang perempuan yang selalu berhasil. Ini tentang perempuan yang memilih tetap hidup sepenuhnya dengan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk tidak memadamkan diri demi memenuhi standar yang tidak adil.
Dan barangkali, perubahan sosial kerap dimulai dari langkah-langkah yang pelan, tetapi konsisten yang diambil oleh perempuan-perempuan yang menolak berhenti bertumbuh.
“Perjalanan perempuan tidak harus tergesa, asal tidak kehilangan arah.”
Pewarta: Muhammad | Editor: Tim Redaksi Interkini.co




