BerandaPemuda & RelawanPendidikanTokoh & Prestasi

Dari Jurnalis ke Pekebun Modern: Perjalanan Moh. Ikbal Menghidupkan Hidroponik di Sigi

INTERKINI.CO – Suara gemericik air kecil terdengar di antara deretan pipa putih yang tersusun rapi di halaman rumah Moh. Ikbal. Dari pipa-pipa itu, tumbuh segar daun kangkung dan sawi hijau. Tak banyak yang menyangka, Ikbal yang dulu dikenal sebagai jurnalis di salah satu media lokal di Sulawesi Tengah kini menemukan dunianya dalam hidroponik.

“Saya pertama kali kenal hidroponik waktu liputan tahun 2018. Saat itu saya bertemu pegiat hidroponik, terus penasaran, kok bisa menanam tanpa tanah?” kenang Ikbal Warga Desa Binangga, Kecamatan Marawola saat ditemui.

Rasa penasaran itu membawanya memesan sistem hidroponik model DFT pada akhir 2019. Ketika pandemi COVID-19 datang, ia pun mulai belajar serius, berawal dari metode sederhana: botol bekas dan jeriken diubah jadi media tanam.

Bagi Ikbal, hidroponik bukan hanya soal sayuran segar. Ia melihat metode ini sebagai jembatan edukasi bagi siapa saja masyarakat, pelajar, bahkan anak-anak. “Kalau masyarakat, hidroponik itu mendekatkan pasar ke halaman rumah. Kalau pelajar, hidroponik bisa jadi praktek Fisika, Kimia, Biologi sekaligus kreativitas. Kalau anak-anak, ini jadi media main yang aman dan imajinatif,” ujarnya.

Sejak itu, kebun hidroponiknya sering jadi tempat belajar dadakan. Warga sekitar atau teman-teman datang sekadar bertanya. Namun ruang edukasi formal memang belum ada. Untuk menjangkau lebih banyak orang, Ikbal memilih berbagi lewat media sosial: YouTube, Facebook, hingga TikTok. Dari cara menanam, merawat, sampai tantangan teknis semua ia bagikan dengan jujur.

“Orang jangan hanya lihat hasil panen yang segar. Mereka juga harus tahu risikonya, supaya tidak kaget kalau nanti ada gagal panen,” jelasnya

Ikbal tumbuh dari keluarga yang berbeda dengan dunia pertanian kakeknya memang petani konvensional, tapi ia sendiri besar di jalur yang lain. Hidroponik baginya adalah pintu masuk: sebuah metode bertani modern yang sehat, tanpa pestisida, ramah lingkungan, dan penuh peluang usaha.

“Pertanian konvensional banyak bergantung pupuk dan pestisida kimia. Hidroponik berbeda. Tidak merusak tanah, hasilnya lebih sehat, dan petani tidak terjebak biaya produksi tinggi,” katanya.

Sebagai generasi muda, Ikbal merasakan hidroponik begitu lekat dengan semangat wirausaha. Ia melihat peluang besar bagi milenial dan Gen Z yang sudah terbiasa dengan kreativitas dan teknologi. “Anak muda jangan habiskan waktu hanya main game atau judi online. Hidroponik itu usaha masa depan. Pasarnya dekat, mudah dipelajari, hasilnya sehat,” tegasnya.

Ke depan, ia berharap hidroponik bisa mendapat dukungan pemerintah dan sekolah. Program ketahanan pangan menurutnya akan lebih kokoh jika keluarga-keluarga bisa menanam sayuran sehat di rumah. Sementara di sekolah, hidroponik bisa jadi praktek nyata IPA sekaligus pembiasaan gaya hidup sehat.

Ikbal menutup pembicaraan dengan satu keyakinan: hidroponik adalah tentang harapan. Harapan untuk hidup lebih sehat, mandiri, kreatif, dan peduli lingkungan.
“Kalau bukan kita yang memulainya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” katanya sambil tersenyum, menatap deretan sayuran hijau yang tumbuh segar di kebunnya.

(a6)

 

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.