Cinta dalam Islam: Kasih yang Menuntun pada Ridha Allah
INTERKINI.CO — Cinta adalah fitrah manusia yang Allah anugerahkan sebagai bagian dari rahmat-Nya. Namun dalam pandangan Islam, cinta bukan sekadar perasaan, melainkan juga ujian dan jalan menuju keridaan Allah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang merupakan karunia ilahi yang ditanamkan dalam hati manusia. Islam memandang cinta bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan dikendalikan agar tetap berada di jalan yang benar.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, melainkan yang lebih dicintai di antara keduanya oleh Allah adalah yang paling besar cintanya kepada sahabatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa cinta sejati dalam Islam adalah cinta yang berlandaskan keimanan, bukan hawa nafsu. Cinta yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah, bukan menjauhkannya dari nilai-nilai ketaatan.
Cinta kepada sesama manusia, baik kepada pasangan, keluarga, maupun sahabat, harus berpijak pada cinta kepada Allah. Karena cinta yang tidak berpangkal pada keimanan mudah berubah menjadi kelekatan duniawi yang menyesatkan.
Ulama besar Ibn Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata, “Cinta kepada Allah adalah kehidupan bagi hati, cahaya bagi jiwa, dan kekuatan bagi ruh.” Maka, mencintai karena Allah berarti menempatkan cinta di tempat yang mulia bukan sekadar emosi, tapi ibadah.
Dalam dunia modern yang sering menafsirkan cinta sebagai kesenangan sesaat, pesan Islam tetap relevan: cintailah dengan adab, kendalikan dengan iman, dan arahkan pada tujuan akhir, yaitu ridha Allah SWT.
Oleh: Ahmad Majelis Muallafah Qulubuhum Sigi
Rubrik: Hikmah




