20 Tahun Mengabdi, Ibu Ida Akhirnya Raih SK P3K
Dari helm lusuh, tumpangan orang baik, hingga air mata bahagia saat pengabdian panjang itu berbuah manis.
INTERKINI.CO, SIGI- Di balik selembar SK P3K yang kini menggenggam erat di tangannya, tersimpan cerita panjang tentang pengabdian, kesetiaan, dan doa yang tak pernah putus. Namanya Ibu Ida, seorang pendidik yang selama dua dekade mengabdikan hidupnya untuk anak-anak di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi.
“Luar biasa sekali, butuh perjuangan. Saat ini saya merasa bahagia sekali, dan kebahagiaan ini tidak dapat diukurkan,” tutur Ibu Idah dengan mata berkaca-kaca, mengenang perjalanan panjangnya hingga akhirnya menerima SK P3K.
Jalan Panjang Seorang Guru Desa
Selama 20 tahun, Ibu Idah berpindah-pindah sekolah: dari SDN Sintuvu, PUD Idaman, PAUD Bakubakulu, hingga terakhir di PAUD Desa Bobo. Di setiap tempat, ia selalu memberikan yang terbaik. Walau jarak antara rumah dan sekolah jauh, semangatnya tidak pernah surut.
“Modal saya pergi kerja hanya helm saja, tidak punya kendaraan sendiri, tidak bisa naik motor. Jadi saya hanya mengandalkan tumpangan dari orang lain.”
Meski harus memberanikan diri menahan orang untuk menumpang hingga sampai ke sekolah, tak sekalipun ia datang terlambat. “Puji Tuhan, walaupun jauh, saya selalu tepat waktu.”
Tujuh tahun terakhir ia habiskan di PAUD Desa Bobo. Kini, takdir membawanya kembali ke tempat semula, sebagai tenaga Administrasi di PAUD Bakubakulu, tempat yang begitu lekat di hatinya.
Antara Perjuangan dan Pengabdian
Sebagai seorang ibu dengan empat orang anak, perjalanan Ibu Ida tentu tidak mudah. Ada rasa lelah, ada keterbatasan, bahkan sempat merasa putus asa ketika dahulu ia mengikuti jalur K2 namun tak berhasil.
Namun, satu prinsip selalu ia pegang teguh:
“Saya harus melayani dengan sukarela, tanpa mengharapkan imbalan. Yang penting ilmu saya bermanfaat untuk anak-anak.”
Dari prinsip itulah, semangatnya tidak pernah padam. Kendala demi kendala ia hadapi dengan penuh syukur. Hingga akhirnya, ia merasakan buah dari kesetiaan. Bahkan, beberapa murid yang dahulu pernah ia ajar kini ikut lolos P3K bersamanya.
“Ini sangat luar biasa sekali, kuasa Tuhan. SK saya terima bersama mantan anak didik saya.” ucapnya haru.
Terima Kasih untuk Perhatian Pemerintah
Rasa syukur mendalam juga ia sampaikan kepada pemerintah Kabupaten Sigi, khususnya kepada Bapak Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae yang telah memberikan peluang bagi guru-gurun dan tenaga administrasi yang sudah berusia lanjut untuk tetap mendapatkan tempat dalam formasi P3K.
“Walaupun bukan PNS, saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Pemerintah sudah memperhatikan kami, para guru dan tenaga administrasi yang berjuang dengan cerita dan perjalanan masing-masing.”
Sebuah Inspirasi
Kisah Ibu Ida adalah bukti nyata bahwa ketulusan tidak pernah sia-sia. Bahwa pengabdian tanpa pamrih pada akhirnya akan menemukan jalannya. Bahwa di balik setiap perjuangan, selalu ada hadiah yang tak ternilai: pengakuan, penghargaan, dan kebahagiaan yang membuncah.
Di balik senyum bahagianya saat menggenggam SK P3K, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik: jangan pernah menyerah, karena kerja tulus pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
Artikel ini ditulis dengan penuh penghargaan terhadap kisah nyata perjuangan Ibu Ida.
Penulis: Mohamad Gasalele




