Sri Sadri Indah Lestari Sunusi: Mengarungi Ombak, Menggapai Mimpi dari Ueruru

INTERKINI, PALU – Di balik riak tenang perairan Sulawesi Tengah, tersimpan kisah seorang gadis 19 tahun yang berani menantang ombak, bukan hanya di laut, tetapi juga dalam hidupnya.
Namanya Sri Sadri Indah Lestari Sunusi, putri asal Desa Ueruru, Kabupaten Morowali Utara. Ia bukan hanya mahasiswi muda yang tekun belajar, tetapi juga seorang atlet dayung profesi yang jarang dijalani perempuan seusianya.
Awal dari Sebuah Keberanian
Perjalanan Sri Sadri dimulai tanpa rencana besar. Saat duduk di kelas dua SMA Petasia, guru olahraganya tiba-tiba masuk kelas dan menawarkan kesempatan kepada para siswa untuk bergabung dalam seleksi tim dayung yang akan tampil di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulteng di Luwuk Banggai saat itu .
“Waktu itu saya belum tahu seperti apa olahraga dayung. Tapi karena saya suka olahraga, saya berpikir: kenapa tidak mencoba? Saya ajukan diri sendiri,” kenangnya sambil tersenyum.
Hari-hari berikutnya menjadi babak baru yang penuh tantangan. Ia bergabung menjadi atlit dayung pada tahun 2022 sampai saat ini . Ia belajar menjaga keseimbangan di atas perahu kecil, jatuh berulang kali ke laut, dan harus berlatih di bawah panas matahari.
“Awalnya jatuh terus, hampir tiap hari. Apalagi saya belum bisa berenang. Tapi ada life jacket, jadi saya tetap lanjut. Lama-lama mulai terbiasa,” ujarnya.
Dari laut dan ombak itulah ia belajar satu hal: ketahanan tidak dilahirkan, tapi ditempa. Dalam beberapa bulan, ia sudah mampu menembus seleksi dan mulai berlatih serius menuju kejuaraan tingkat provinsi.
Mendayung Menuju Mimpi
Tahun 2023 menjadi titik balik penting dalam kariernya. Ia mewakili Sulawesi Tengah di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior PPLP/SKO, turun di nomor C1 (kan0 single) dan dobol 1000 meter.
Meski baru pertama kali tampil di level nasional, Srisastri sukses finis di peringkat keempat sebuah pencapaian luar biasa untuk pendatang baru.
“Saya tidak menyangka bisa sejauh itu. Persaingannya berat dari seluruh provinsi di Indonesia. Tapi di situ saya merasa, inilah jalan saya,” tuturnya dengan mata berkaca.
Kini hidupnya dijalani dengan disiplin tinggi: latihan, kuliah, istirahat, lalu kembali latihan. Ia tinggal di asrama pelatihan jauh dari keluarga, dengan aturan ketat termasuk pembatasan penggunaan ponsel.
“Rasanya berat. Kadang mau menyerah. Tapi saya ingat, saya ingin membawa nama daerah, bahkan kalau bisa, nama Indonesia. Itu yang membuat saya terus bertahan,” ucapnya lirih.
Restu yang Datang Belakangan
Tak banyak yang tahu, ketika pertama kali bergabung di dunia dayung, orang tuanya bahkan belum tahu.
“Saya diam-diam ikut. Baru beberapa minggu kemudian saya bilang ke mama. Awalnya beliau kaget, bahkan tidak merestui. Tapi lama-lama mama melihat manfaatnya, dan sekarang beliau bangga,” katanya.
Kini, selain berlatih, Sri Sadri juga menempuh pendidikan tinggi di STIA Panca Marga Palu semester satu dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Morowali Utara. Ia belajar membagi waktu antara kuliah dan latihan sesuatu yang tidak mudah untuk anak seusianya.
“Saya sering harus korbankan waktu santai. Tidak bisa jalan-jalan seperti teman-teman lain. Tapi saya yakin, semua pengorbanan akan ada hasilnya,” ungkapnya mantap.
Air Mata, Keringat, dan Doa
Di balik ketegasan dan semangatnya, Sri Sadri menyimpan sisi lembut yang sarat makna. Ia mengaku sering menangis diam-diam di kamar asrama ketika rindu rumah dan keluarga.
“Kadang setahun tidak pulang. Kalau bisa pulang, biasanya pas puasa atau Lebaran saja. Tapi saya selalu ingat pesan mama: kalau mau berhasil, jangan setengah-setengah,” ucapnya dengan mata berkaca.
Kini, ia tengah bersiap menghadapi Kejurnas Senior dan sejumlah kejuaraan lain. Tujuannya jelas: menembus Pelatnas, tempat para atlet terbaik Indonesia ditempa untuk membela Merah Putih di panggung dunia.
“Saya ingin membuktikan bahwa perempuan bisa kuat, bisa berprestasi, tanpa kehilangan hati lembutnya,” ujarnya penuh keyakinan.
Pesan untuk Perempuan Muda Indonesia
Di akhir perbincangan, Sri Sadri menitipkan pesan penuh makna:
“Untuk anak muda, terutama perempuan, jangan pernah menyerah. Semua butuh proses. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Jangan bilang pahitnya dunia kalau belum pernah merasakan air keringat jatuh di mata,” katanya kalimat yang ia ucapkan sambil menghapus air mata.
Sri Sadri Indah Lestari Sunusi telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat kecil, dan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, tapi pejuang yang mampu menembus batas dirinya sendiri.
Di atas ombak yang bergulung, ia terus mendayung bukan hanya menuju garis finis, tapi menuju masa depan yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri.
“Kadang, untuk mencapai daratan impian, seseorang harus berani menantang ombak bahkan jika dayungnya hanya satu.”
Pewarta: Muhammad
Editor: Tim Redaksi Interkini.co




