Maulid Nabi dan Tradisi Malay Telur, Jejak Edukasi di SMPN 9 Tarakan

INTERKINI.CO, TARAKAN- Setiap tahun, SMPN 9 Tarakan punya cara unik merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya melalui tausiyah dan doa bersama, tetapi juga lewat lomba menghias Malay telur yang melibatkan seluruh siswa dari kelas VII hingga kelas IX. Suasana sekolah pun berubah semarak, dipenuhi warna-warni hiasan, kreativitas, serta semangat kebersamaan.

Malay telur bukan sekadar hiasan, tetapi sarat makna budaya. Telur melambangkan kehidupan baru, kesuburan, sekaligus harapan. Ketika dipadukan dengan tradisi Maulid, ia menjadi simbol syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pengingat akan pentingnya meneladani akhlaknya.
Dalam gelaran Maulid tahun ini, kreativitas siswa benar-benar diuji. Dari tangan-tangan mereka lahir karya hiasan telur yang beragam—ada yang sederhana namun anggun, ada pula yang megah dengan detail penuh ketelitian. Kompetisi ini bukan hanya soal siapa yang paling indah, tetapi bagaimana siswa belajar kerja sama, disiplin, dan menghargai proses.
Hasilnya, tercatat enam kelas terbaik berhasil meraih penghargaan. Juara 1 diraih kelas 97, Juara 2 kelas 99, Juara 3 kelas 91/92, Harapan 1 kelas 93, Harapan 2 kelas 81/82, dan Harapan 3 kelas 86. Setiap kelas yang berpartisipasi membawa kebanggaan tersendiri, sebab di balik hiasan ada cerita tentang usaha dan kebersamaan.
Susilawati, S.Pd.I, Guru PAI sekaligus Ketua Panitia, menegaskan bahwa lomba ini bukan hanya sekadar perayaan. “Dengan peringatan Maulid Nabi, siswa belajar meneladani sifat mulia Rasulullah. Harapannya, nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, kedisiplinan, dan kepedulian dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar diketahui,” jelasnya.
Ucapan itu terasa sejalan dengan semangat lomba Malay telur. Kreativitas yang ditampilkan para siswa bukan semata hasil tangan, melainkan cermin nilai yang ditanamkan: kejujuran saat bekerja bersama, amanah dalam menyelesaikan tugas, disiplin dalam mengatur waktu, dan kepedulian pada sesama anggota kelompok.
Pada akhirnya, peringatan Maulid Nabi di SMPN 9 Tarakan lebih dari sekadar acara tahunan. Ia menjadi ruang edukasi yang hidup, tempat nilai akhlak Rasulullah ditanamkan lewat tradisi dan kreativitas. Lewat Malay telur, siswa tidak hanya belajar tentang budaya, tetapi juga tentang bagaimana iman dan karakter bisa diwujudkan dalam tindakan nyata.
Penulis: Muhammad Gasalele
Editor: Tim Redaksi Interkini.co




