Anak Muda & LiterasiBerandaPendidikan

Merah Putih Kecil di Atas 1.100 MDPL

Di pelosok Sigi, pembagian bendera kecil jadi simbol harapan dan semangat kemerdekaan anak-anak SD Negeri Tompu

INTERKINI.CO, SIGI – Di sebuah dusun kecil bernama Tompu, di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, semangat kemerdekaan Indonesia tetap menyala meski akses jalan menuju ke sana terjal, licin, dan berbahaya. Jalan berbatu yang curam kerap memaksa kendaraan berhenti, bahkan tak jarang harus dilalui dengan berjalan kaki agar tidak terperosok ke jurang. Namun, semua rintangan itu terbayar lunas ketika melihat wajah-wajah kecil penuh tawa menyambut bendera merah putih kecil dengan mata berbinar.

Pembagian bendera ini merupakan rangkaian kegiatan memperingati HUT RI ke-80, yang diselenggarakan oleh Yayasan Galang Bersama Kami bekerja sama dengan Askara Muda Nusantara (Amura) Sigi. Kegiatan berlangsung atas koordinasi dan izin pemerintah desa serta pihak sekolah setempat. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 17 Agustus 2025.

Salah satu relawan, Zervina, dari Amura Sigi, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya.
“Perasaan yang kami rasakan pastinya senang dan terharu. Bisa menyalurkan kebahagiaan 17-an dengan adik-adik di Tompu itu momen yang luar biasa. Apalagi saat membagikan atribut sederhana seperti bendera kecil dan stiker bendera, senyum mereka benar-benar berkesan,” ujarnya.

Menurut Zervina, momen paling berharga adalah ketika anak-anak menerima bendera dengan tawa dan senyum tulus. Walau jumlah bendera yang dibagikan hanya belasan karena sebagian anak lain sedang mengikuti kegiatan ibadah pada pagi hari itu namun kebahagiaan yang tampak di wajah mereka terasa tak ternilai.

“Respon anak-anak bahagia sekali. Rasanya semua perjuangan untuk menembus medan sulit terbayar hanya dengan senyum itu,” tambahnya.

Harapan sederhana juga disampaikan Zervina. Ia berharap perayaan kemerdekaan tidak hanya dirasakan anak-anak di kota, tetapi juga di pelosok negeri.

“Semoga tahun-tahun mendatang selalu ada perayaan seperti ini di desa-desa terpencil. Mereka juga berhak merasakan semaraknya kemerdekaan. Dan semoga akses jalan menuju Tompu bisa diperhatikan, karena kadang saat hujan deras perjalanan bisa memakan waktu sampai delapan jam,” ungkapnya.

Sementara itu, Adnan Tendenag, koordinator lapangan kegiatan, juga merasakan perasaan yang campur aduk.

“Haru, bahagia, gembira… semua bercampur jadi satu. Melihat bendera merah putih dikibarkan dengan khidmat di pelosok ketinggian 1.100 MDPL, meski jalan ke sana sulit apalagi saat hujan, itu luar biasa. Bahagia sekali bisa melihat anak-anak dan masyarakat tertawa bersama merayakan HUT RI ke-80,” katanya.

Adnan juga menitipkan pesan khusus untuk pemerintah daerah, terutama Kabupaten Sigi.
“Kami berharap pemerintah selalu memantau proses pendidikan anak-anak di pelosok. Apakah mereka sudah mendapatkan pembelajaran sesuai amanat undang-undang atau belum. Karena pendidikan adalah kunci agar anak-anak ini bisa maju dan tidak tertinggal,” tegasnya.

Di balik keterbatasan fasilitas, sulitnya akses, dan beratnya medan, semangat kemerdekaan di Tompu justru terasa begitu murni. Sederhana, tapi penuh makna. Senyum anak-anak yang menggenggam erat bendera kertas dengan tiang sedotan itu menjadi simbol harapan—bahwa kemerdekaan tidak hanya milik mereka yang tinggal di kota besar, melainkan juga milik anak-anak di pelosok negeri.

Perayaan sederhana di Tompu memberi pelajaran penting: kemerdekaan bukan sekadar seremoni, tetapi kesempatan untuk menanamkan nilai kebangsaan dan pendidikan bagi generasi muda. Di tangan anak-anak yang menggenggam bendera kecil itu, tersimpan mimpi besar tentang Indonesia yang lebih adil, merata, dan memberi ruang yang sama bagi semua anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.

(aa/in)

 

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.