Suara Pemulung

Suara Pemulung: Rumah Sakit di Tengah Anggaran yang Sakit

Aku heran… tapi apa mau dikata, aku hanya orang biasa yang hidup di pinggir jalan.
Bangunan itu berdiri megah di atas tanah tinggi Kulawi. Catnya masih muda, plang namanya bersih, dan angin berputar di lorong-lorongnya yang sunyi. Di atas kertas, ia disebut rumah sakit tipe D pratama sebuah harapan baru bagi masyarakat. Namun di dalamnya, denyut kehidupan belum sepenuhnya terasa.

Ranjang-ranjang sudah terjejer tiga puluh buah, tapi tak banyak tubuh yang berbaring di atasnya. Laboratorium sudah ada, tapi alat-alatnya belum semua berfungsi. UGD terbuka, poli melayani, tapi ruang rawat inap masih menunggu waktu yang belum tentu datang.

Pembangunan rumah sakit ini dimulai tahun 2022 dengan dana DAK. Rampung pada 2023, dan mulai beroperasi seadanya pada 2024. Anggaran untuk menjalankannya yang mestinya menjadi nadi pelayanan baru mengalir tipis pada 2026. Dua tahun pertama, anggaran yang datang hanya cukup untuk menggaji pegawai, tanpa banyak ruang bagi obat-obatan, peralatan, atau pemeliharaan fasilitas.

Secara teori, rumah sakit seperti ini tak mungkin berjalan. Tapi di lapangan, pelayanan tak boleh berhenti hanya karena teori. Poli tetap buka, UGD tetap siaga, dan masyarakat tetap dilayani meski tanpa biaya sepeser pun.

Sebab, bagaimana mungkin memungut biaya jika dasar hukumnya belum ada? Maka pelayanan berjalan di atas niat baik, bukan peraturan. Pasien yang datang tetap diterima, obat dibagi sesuai stok yang tersisa, dan laporan tetap dibuat, manual jika perlu. Semua data diserahkan ke Dinas Kesehatan, ke Inspektorat, ke BPK agar tak ada prasangka yang tersisa.

Rumah sakit ini sejatinya telah menjalani akreditasi sejak lama. Bukan semata proses administratif, melainkan akreditasi moral: bagaimana melayani tanpa cukup bekal, bagaimana bertahan tanpa anggaran, dan bagaimana tetap berdiri tanpa sokongan penuh.

Lebih dari seribu pasien telah datang sejak 2024. Mereka datang bukan karena fasilitasnya lengkap, tapi karena harapan masih ada. Di ruang-ruang sederhana itu, kesehatan dicoba dirawat dengan tenaga terbatas tapi niat yang besar.

Ambulans belum dimiliki sendiri, tapi selalu bisa dipinjamkan. Alat medis sebagian masih diselimuti plastik, menunggu diuji fungsi. Farmasi hidup dari kiriman Dinas Kesehatan, laboratorium menunggu teknisi datang dengan surat tugas. Semua dijalankan atas nama efisiensi kata yang kadang terdengar seperti eufemisme dari kekurangan.

Namun kekurangan bukan alasan untuk berhenti. Setiap hari Rabu, dokter spesialis datang dari rumah sakit kabupaten. Sekali seminggu cukup, katanya karena anggaran hanya sanggup sejauh itu. Tapi bagi warga, sekali seminggu itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pemeriksaan demi pemeriksaan telah dilakukan oleh lembaga pengawas: BPK, Inspektorat, hingga kementerian. Hasilnya serupa: tidak ada penyelewengan, hanya kekosongan anggaran. Rekomendasinya pun selalu sama segeralah operasionalkan rumah sakit, jangan biarkan bangunan itu menjadi monumen sunyi dari dana DAK yang tak berdenyut.

Sebab, rumah sakit tanpa anggaran adalah ironi yang terlalu nyata. Bangunannya berdiri, tapi pelayanannya terseok. Mesin ada, tapi tak menyala. Pegawai ada, tapi menunggu dana operasional untuk bekerja sepenuhnya. Semua serba ada tapi belum.

Dan di tengah semua itu, para petugas tetap datang setiap hari. Mereka menulis laporan, membuka poli, menyalakan lampu, melayani pasien satu per satu. Sebab bagi mereka, pelayanan publik bukan soal besar kecilnya dana, tapi tentang tanggung jawab moral untuk tetap hadir.

Rumah sakit ini memang belum sempurna, tapi ia bukan fiktif. Ia beroperasi dalam keterbatasan, diperiksa tanpa masalah, dan terus berjuang agar suatu hari nanti bisa bekerja sama dengan BPJS. Sebab tanpa akreditasi, pintu kerja sama itu tetap tertutup, dan dana pelayanan tetap tersendat.

Di seberang jalan, masyarakat masih menunggu. Mereka ingin berobat ke rumah sakit sendiri, bukan ke wilayah yang jauh. Mereka tahu rumah sakit itu ada, tapi juga tahu betapa berat perjuangannya untuk benar-benar sehat.

Rumah sakit ini mengajarkan satu hal: bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya butuh bangunan, tapi juga keadilan anggaran. Sebab yang paling sakit kadang bukan pasiennya, melainkan sistem yang membiarkannya berjalan pincang.

Dan di tengah sunyi lorong rumah sakit itu, semangat masih menyala. Bukan karena anggaran sudah cukup, tapi karena masih ada nurani yang belum padam.


🟤 Tentang Penulis
Suara Pemulung
Penulis adalah pengelola Interkini.co yang menulis di bawah rubrik Suara Pemulung. Melalui suara sederhana dari pinggir jalan, ia menyampaikan refleksi tentang kehidupan, kemanusiaan, dan kejujuran sosial yang kerap terabaikan.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.