Lapangan Bukan Singgasana

Oleh: Penulis Suara Pemulung – Interkini.co
Lapangan selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan kejujuran. Di sana, peluh menjadi bahasa, dan kemenangan adalah hasil dari usaha, bukan hasil dari lobi. Tapi belakangan, lapangan mulai diperlakukan seperti ruang kekuasaan tempat jabatan ikut berlari, dan kursi jadi hadiah yang diperebutkan.
Aku sering duduk di pinggir lapangan, memungut botol kosong dan cerita-cerita yang tercecer. Di antara sorak dan tepuk tangan, ada bisik-bisik yang tak kalah nyaring: tentang siapa yang akan memimpin, siapa yang akan duduk, siapa yang akan menang. Padahal, bukankah yang seharusnya menang adalah semangat olahraga itu sendiri?
Olahraga lahir dari niat murni untuk sehat, bersatu, dan berprestasi. Tapi ketika lapangan dijadikan singgasana, niat itu berubah arah. Yang seharusnya berlari mengejar skor, kini berlari mengejar posisi. Yang seharusnya membangun semangat, malah membangun pengaruh.
Aku tak menolak siapa pun mencintai olahraga. Semua orang boleh peduli, boleh ikut berbuat. Tapi ada perbedaan antara membangun dan menguasai. Lapangan bukanlah ruang untuk memperluas kekuasaan, melainkan tempat di mana semua orang belajar tentang kesetaraan bahwa di hadapan garis start, semua sama.
Rakyat kecil yang menonton dari pinggir lapangan hanya ingin melihat olahraga tumbuh jujur. Mereka ingin anak-anak punya tempat bermain, atlet lokal punya kesempatan, dan kemenangan diraih tanpa intrik. Mereka tak peduli siapa ketua, siapa pejabat, atau siapa yang duduk di kursi depan selama niatnya tulus, mereka akan menghormatinya.
Tapi bila lapangan berubah jadi singgasana, maka sportivitas akan kehilangan rumahnya. Karena di atas singgasana, yang bicara bukan lagi keringat, tapi kepentingan. Dan bila itu terjadi, rakyat di pinggir jalan hanya bisa mengelus dada sambil berkata pelan: “Mereka berlari, tapi bukan untuk bermain.”
Lapangan itu tempat kita menundukkan kepala saat kalah, bukan tempat meninggikan diri saat berkuasa. Di sana, hormat tidak diminta, tapi didapat lewat kejujuran dan kerja keras. Semoga siapa pun yang datang ke lapangan datang bukan untuk duduk di atas, tapi untuk berdiri bersama.
Karena pada akhirnya, lapangan bukan singgasana. Ia hanya butuh satu hal: keikhlasan.
🟤 Tentang Penulis:
Penulis adalah pengelola Interkini.co yang menulis di bawah rubrik Suara Pemulung.
Melalui suara sederhana dari pinggir jalan, ia menyampaikan refleksi tentang kehidupan, kemanusiaan, dan kejujuran sosial yang sering terabaikan.




