Suara Pemulung

Taksi Kampung dan “Kiri Pak Sopir”

Catatan dari pinggir jalan tentang kendaraan yang perlahan menghilang.

Sesekali, saat mobil melambat, ada penumpang yang mengatakan, “kiri pak sopir.” Sopir langsung paham. Mobil menepi, pintu digeser, dan penumpang turun. Tidak ada tombol berhenti, tidak ada tanda khusus. Semua berjalan dari kebiasaan yang sudah lama terbentuk. Kalimat singkat itu cukup untuk mengatur perjalanan, tanpa perlu penjelasan tambahan.

Di dalam taksi kampung, penumpang duduk saling berhadapan. Jaraknya dekat, membuat orang mudah saling mengenali wajah. Kadang ada obrolan singkat tentang jalan, cuaca, atau kabar sekitar. Kadang juga hanya diam sambil menunggu giliran turun. Orang naik dan turun bergantian, dan perjalanan terasa sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan sesuatu yang harus dikejar.

Sekarang, suasana seperti itu semakin jarang ditemui. Kendaraan lebih tertutup, arah duduk menghadap ke depan, dan penumpang sibuk sendiri. Perjalanan menjadi lebih cepat dan lebih terukur. Suara meminta berhenti digantikan oleh sistem, dan sopir tidak lagi perlu mengenal siapa yang ia antar.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa dulu selalu lebih baik. Aku hanya mencatat perubahan yang terjadi pelan-pelan. Taksi kampung dulu bukan sekadar alat angkut, tetapi ruang pertemuan kecil yang hadir setiap hari, tanpa direncanakan dan tanpa disadari.

Dari pinggir jalan ini, aku melihat kendaraan itu makin jarang lewat. Bersamanya, hilang pula kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu membuat perjalanan terasa dekat dan sederhana.


🟤 Tentang Penulis
Suara Pemulung
Penulis adalah pengelola Interkini.co yang menulis di bawah rubrik Suara Pemulung. Melalui suara sederhana dari pinggir jalan, ia menyampaikan refleksi tentang kehidupan, kemanusiaan, dan kejujuran sosial yang kerap terabaikan.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.