Artikel TrendingHeadlineLintas Sulteng
3 Siswi SMA Negeri 2 Sigi Diduga Keroyok Teman, Keluarga Akan Lapor Polisi
📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami
klik di sini
SIGI –Tiga siswi diduga mengeroyok rekan sesama pelajar di SMA Negeri 2 Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2026) sekitar pukul 15.30 WITA. Korban dilaporkan mengeluhkan sakit di bagian kepala, sementara keluarga berencana menempuh jalur hukum.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden diduga terjadi di dalam ruang kelas. Konflik disebut berawal dari cekcok di media sosial beberapa hari sebelum kejadian.
Korban saat itu disebut menuju kelas untuk mengambil sepatu. Menurut keterangan yang diperoleh, korban kemudian diikuti tiga siswi lain ke dalam ruangan.
Setelah berada di dalam kelas, pintu disebut tertutup dan tirai jendela ditarik sehingga kondisi di dalam ruangan tidak terlihat dari luar.
Teriakan korban kemudian terdengar dari luar kelas hingga memicu sejumlah siswa mendatangi lokasi dan membuka pintu.
Saat pintu berhasil dibuka, korban diduga telah mengalami kekerasan fisik. Korban disebut sempat melawan satu pelaku, sementara dua lainnya diduga menahan tubuh korban. Pukulan dilaporkan mengenai bagian kepala.
Salah satu saksi yang mengaku berupaya melerai menyebut dirinya ikut mengalami kekerasan.
“Saya hanya mau melerai, tapi saya didorong dan dicakar,” ujarnya.
Sehari setelah kejadian, Selasa (12/5/2026), korban menghadiri mediasi di sekolah bersama orang tuanya. Namun korban disebut mengalami ketakutan, pusing, dan tekanan psikologis saat berada di lingkungan sekolah.
Seorang guru kemudian membawa korban pulang menggunakan mobil pribadi karena kondisinya dinilai tidak memungkinkan mengikuti mediasi.
Keluarga korban berencana melaporkan kasus tersebut ke Polres Sigi. Langkah itu juga dilakukan untuk kebutuhan visum medis.
Upaya mediasi yang difasilitasi pihak sekolah berakhir tanpa kesepakatan. Orang tua korban memilih meninggalkan pertemuan dan melanjutkan proses hukum.
Kasus ini juga menyorot kesiapan sekolah dalam menangani kekerasan di lingkungan pendidikan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekolah diduga belum memiliki Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
Paman korban, Taufik, menilai korban seharusnya mendapat pendampingan lebih maksimal.
“Harusnya korban didampingi, termasuk saat pemeriksaan kesehatan. Ini malah keluarga yang bergerak sendiri,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi lengkap maupun langkah penanganan lanjutan atas kasus tersebut.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian publik, sementara sorotan tertuju pada perlindungan siswa di lingkungan sekolah.
(Tim)