HikmahKajian & Ceramah

Hikmah: Lisan, Tulisan, dan Jejak Digital yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban

INTERKINI.CO – Di zaman ini, manusia mungkin tidak lagi banyak berbicara dengan suara, tetapi hampir setiap hari berbicara lewat tulisan. Jari-jari bergerak cepat di layar gawai, menyampaikan pendapat, perasaan, bahkan amarah. Tanpa disadari, setiap ketikan meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada kata-kata yang terucap di udara.

Islam memandang lisan dan tulisan sebagai amanah. Keduanya bukan sekadar alat berkomunikasi, melainkan cermin keimanan dan akhlak seseorang. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban,” (QS. Al-Isra: 36). Ayat ini mengajarkan bahwa setiap bentuk penyampaian baik yang kita dengar, lihat, maupun sampaikan kembali memiliki konsekuensi moral.

Di ruang publik digital, batas antara benar dan salah sering kali menjadi kabur. Informasi beredar cepat, emosi mudah tersulut, dan reaksi kerap mendahului perenungan. Banyak orang menulis bukan untuk menyampaikan kebenaran, melainkan untuk meluapkan perasaan. Padahal, dalam Islam, niat dan cara menyampaikan memiliki nilai yang sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Rasulullah SAW memberikan pedoman yang sangat relevan lintas zaman. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam,” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan ajakan untuk membungkam diri, melainkan ajakan untuk menimbang. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan tergesa-gesa, dan tidak semua yang kita rasakan perlu diumumkan ke ruang publik.

Tulisan, berbeda dengan lisan, memiliki daya simpan yang panjang. Ia dapat disalin, dibagikan, dan dihadirkan kembali kapan saja. Satu kalimat yang ditulis tanpa empati bisa terus melukai, meski penulisnya telah lupa. Inilah yang disebut jejak digital rekam jejak yang kelak bukan hanya dinilai oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT.

Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Oleh karena itu, ghibah, fitnah, dan prasangka dilarang, meski dibungkus dengan dalih kebebasan berekspresi. Menyampaikan kritik diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama dilakukan dengan niat memperbaiki, bahasa yang beradab, dan cara yang bertanggung jawab. Kritik yang lahir dari kebijaksanaan akan membangun, sementara kata-kata yang lahir dari amarah sering kali hanya meninggalkan luka.

Di tengah derasnya arus informasi, tabayyun menjadi sikap yang semakin penting. Memeriksa sebelum menyebarkan bukan sekadar soal akurasi, tetapi juga soal keadilan. Bisa jadi satu informasi yang kita bagikan dengan ringan, menjadi beban berat bagi kehidupan orang lain.

Menjaga lisan dan tulisan bukan perkara mudah. Ia menuntut kesadaran, kesabaran, dan kejujuran pada diri sendiri. Ada kalanya diam lebih menyelamatkan daripada berbicara. Ada saatnya menahan jari lebih mulia daripada menekan tombol kirim.

Pada akhirnya, ruang publik baik nyata maupun digital adalah ladang amal. Setiap kata bisa menjadi pahala atau sebaliknya. Setiap tulisan bisa menjadi saksi kebaikan atau sumber penyesalan. Ketika kelak semua dipertanggungjawabkan, bukan banyaknya kata yang dinilai, tetapi kebaikan yang dibawanya.

Semoga kita mampu menjadikan lisan sebagai penyejuk, tulisan sebagai pengingat, dan jejak digital sebagai warisan kebaikan. Karena dalam pandangan Islam, akhlak bukan hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga tercermin dari bagaimana kita berbicara, menulis, dan menjaga martabat sesama manusia.

Penulis: Ahmad Majelis Muallafah Qulubuhum Sigi
Rubrik: Hikmah

Disclaimer:
Artikel ini merupakan tulisan reflektif keagamaan dalam rubrik Hikmah. Pandangan dalam tulisan ini bertujuan edukasi dan tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak mana pun.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.