Sebelum Anak Mengenal Dunia, Ajarkan Mereka Mengenal Allah
INTERKINI.CO — Tidak ada warisan paling berharga yang dapat ditinggalkan orang tua kepada anak-anaknya selain iman. Harta dapat habis, ilmu dunia dapat terlupakan, kecantikan akan memudar, dan popularitas hanya bertahan sesaat. Namun hati yang mengenal Allah SWT akan menjadi bekal yang menyertai seorang hamba hingga menghadap-Nya.
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya populer, banyak orang tua berlomba mengembangkan potensi putra-putrinya sejak usia dini. Anak diajarkan berbagai keterampilan, mulai dari seni, bahasa asing, olahraga hingga kemampuan akademik. Semua itu merupakan ikhtiar yang baik selama tidak menggeser prioritas paling mendasar dalam pendidikan Islam, yakni membangun akidah, ibadah, dan akhlak.
Karena itu, nasihat yang kerap disampaikan para dai agar orang tua lebih dahulu mengajarkan anak shalat, mencintai Al-Qur’an, serta membiasakan menjaga aurat sejatinya bukan larangan terhadap seni atau keterampilan. Pesan tersebut merupakan pengingat agar fondasi keimanan tidak dikalahkan oleh kepentingan dunia yang bersifat sementara.
Pendidikan Pertama Adalah Tauhid
Islam menempatkan pendidikan keimanan sebagai pondasi seluruh proses pembentukan karakter. Bahkan sebelum berbicara tentang kecerdasan, prestasi, ataupun keterampilan, Al-Qur’an terlebih dahulu mengajarkan pentingnya menanamkan tauhid kepada anak.
Allah SWT mengabadikan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya:
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan pertama dalam keluarga bukanlah tentang kemampuan hidup, melainkan tentang mengenal Sang Pencipta. Sebab akidah yang lurus akan melahirkan cara pandang yang benar terhadap seluruh aspek kehidupan.
Shalat: Pendidikan yang Tidak Boleh Ditunda
Setelah tauhid, syariat menempatkan shalat sebagai pendidikan berikutnya yang harus dibiasakan sejak dini.
Rasulullah SAW bersabda:
“Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun…” (HR. Abu Dawud; dinilai hasan oleh banyak ulama).
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana membentuk disiplin, tanggung jawab, serta hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Anak yang tumbuh mencintai shalat akan memiliki kompas moral ketika menghadapi berbagai godaan kehidupan.
Al-Qur’an Sebagai Cahaya Pendidikan
Selain shalat, Al-Qur’an menjadi pilar utama pendidikan Islam. Orang tua tidak hanya dituntut mengajarkan anak membaca ayat-ayat Allah, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap petunjuk-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini memperlihatkan bahwa kemuliaan sebuah keluarga bukan diukur dari banyaknya prestasi dunia, melainkan dari kesungguhannya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Menjaga Aurat, Menanamkan Kemuliaan
Dalam Islam, pendidikan tentang aurat bukan sekadar persoalan busana. Ia merupakan bagian dari pembentukan rasa malu (al-haya’) yang dipuji syariat.
Allah SWT berfirman:
“…Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dadanya…” (QS. An-Nur: 31).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga aurat adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus penjagaan terhadap kehormatan diri. Para ulama menjelaskan bahwa pendidikan mengenai adab berpakaian sebaiknya diberikan secara bertahap, penuh kasih sayang, dan disertai keteladanan orang tua, sehingga lahir dari kesadaran, bukan semata paksaan.
Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pendidikan formal, atau masa depan ekonomi. Amanah terbesar orang tua adalah memastikan anak mengenal jalan menuju ridha Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).
Menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari api neraka dilakukan dengan mengajarkan ilmu agama, memerintahkan ketaatan, serta melarang mereka dari kemaksiatan. Tanggung jawab ini tidak dapat dipindahkan sepenuhnya kepada sekolah, guru mengaji, ataupun lingkungan.
Pesan senada ditegaskan Rasulullah SAW:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan orang tua tidak hanya diukur dari kesuksesan anak di dunia, tetapi juga dari sejauh mana mereka membimbing anak menuju keselamatan di akhirat.
Hikmah
Islam tidak mengajarkan orang tua untuk mematikan bakat anak ataupun menutup ruang bagi kreativitas. Seni, ilmu pengetahuan, olahraga, dan berbagai keterampilan merupakan nikmat Allah yang dapat dikembangkan selama berada dalam batas-batas syariat. Namun seluruh potensi itu harus berdiri di atas pondasi iman yang kokoh.
Anak yang mengenal Allah sebelum mengenal gemerlap dunia akan memiliki arah ketika dewasa. Ia mungkin menjadi ilmuwan, guru, pengusaha, seniman, atau pemimpin, tetapi semua itu dijalani sebagai bentuk ibadah, bukan semata mengejar pengakuan manusia.
Pada akhirnya, warisan terbaik bukanlah banyaknya harta ataupun prestasi yang ditinggalkan kepada anak, melainkan hati yang senantiasa tunduk kepada Allah SWT, lisan yang akrab dengan Al-Qur’an, serta langkah yang istiqamah menapaki jalan Rasulullah SAW. Itulah bekal yang akan tetap bernilai ketika seluruh kebanggaan dunia tidak lagi memiliki arti di hadapan Allah SWT.
Penulis: Ahmad
Lembaga: Majelis Muallafah Qulubuhum Sigi




