Seratus Ribu untuk Masjid: Hikmah Wakaf Uang yang Tak Pernah Putus
INTERKINI.CO – Pak Rahman hanyalah seorang tukang ojek di sebuah kampung kecil. Penghasilannya tidak menentu. Ada hari ketika ia membawa pulang Rp50 ribu, ada pula hari ketika uang yang didapat hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana bagi keluarganya.
Suatu Jumat, saat mengikuti salat berjemaah di masjid kampungnya, ia mendengarkan khutbah tentang wakaf.
“Wakaf bukan hanya tanah atau bangunan. Wakaf uang juga merupakan amal jariah. Berapa pun nilainya, jika dilakukan dengan ikhlas, pahalanya akan terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.”
Kalimat itu terus terngiang dalam benaknya.
Sepulang dari masjid, Pak Rahman membuka dompetnya. Di dalamnya hanya tersisa selembar uang Rp100 ribu. Uang itu sebenarnya telah ia sisihkan untuk membeli ban motornya yang mulai aus. Sebagai tukang ojek, ban yang layak adalah penopang nafkahnya.
Malam itu, ia melaksanakan salat hajat. Di penghujung doa, ia berbisik lirih, “Ya Allah, jika uang ini aku wakafkan, terimalah sebagai amal kecilku.”
Keesokan harinya, tanpa diketahui siapa pun, ia memasukkan uang Rp100 ribu itu ke kotak donasi pembangunan masjid. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pula nama yang diumumkan.
Hanya Allah yang menjadi saksi.
Beberapa bulan kemudian, masjid kampung mulai direnovasi. Tempat wudhu dipasangi keramik baru. Kipas angin dipasang agar jamaah lebih nyaman. Rak Al-Qur’an terisi mushaf-mushaf baru yang siap dibaca siapa saja.
Anak-anak TPA semakin bersemangat belajar mengaji. Jamaah salat berjemaah pun bertambah karena masjid menjadi lebih nyaman.
Barangkali, sebagian kecil dari semua kebaikan itu berasal dari uang Rp100 ribu yang pernah diikhlaskan Pak Rahman.
Setiap tetes air yang digunakan untuk berwudhu, setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca, setiap sujud yang dilakukan di masjid itu, menjadi amal yang terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan.
Bertahun-tahun kemudian, Pak Rahman telah tiada.
Suatu hari, anaknya mengajak cucunya ke masjid yang sama. Di sana masih terpampang sebuah papan sederhana berisi daftar para pewakaf.
“Almarhum Rahman.”
Sang cucu bertanya, “Kakek wakaf apa?”
Anaknya tersenyum.
“Kakekmu tidak mewakafkan tanah. Tidak juga membangun masjid sendirian. Beliau hanya mewakafkan seratus ribu rupiah. Namun jika dilakukan dengan ikhlas, Allah mampu menjadikannya pahala yang terus mengalir.”
Begitulah wakaf. Ia tidak selalu dimulai dari harta yang besar, tetapi dari hati yang bersedia memberi. Dalam pandangan manusia, nilainya mungkin kecil. Namun di sisi Allah, keikhlasan mampu melipatgandakan keberkahannya.
Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa beramal tidak harus menunggu menjadi kaya. Sebab, yang dinilai bukan semata besarnya pemberian, melainkan ketulusan hati saat menyerahkannya kepada Allah SWT.
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Catatan: Kisah ini merupakan ilustrasi yang bertujuan menggambarkan makna wakaf uang dan pentingnya keikhlasan dalam beramal.
Oleh: H. Sopian Riduan, S.Ag., M.Pd.




