Lindu Menunggu Desain, Bukan Sekadar Janji Pariwisata
INTERKINI.CO, SIGI — Danau Lindu menyimpan potensi besar. Namun, arah pengembangannya kembali dipertanyakan. Di tengah harapan menjadikannya destinasi unggulan, kawasan ini disorot karena belum ditopang desain yang jelas dan terarah.
Pernyataan anggota DPRD Sigi, Abdul Rifai Arif, membuka hal yang selama ini terasa, tetapi jarang diucapkan terang: Lindu bukan kekurangan potensi, melainkan kekurangan arah.
Dalam keterangannya kepada interkini.co, Jumat, 10 April 2026, Rifai menyebut Danau Lindu sebagai “anugerah terbesar” bagi Kabupaten Sigi. Ia bukan hanya sumber air baku, tetapi juga penopang hidup masyarakat sejak lama. Namun, pengakuan itu sekaligus menyiratkan paradoks: sumber daya besar yang belum diolah dengan visi setara.
Masalah ini bukan baru. Wacana pengembangan pariwisata Lindu kerap muncul, tetapi berhenti pada promosi dan harapan. Rifai menekan titik yang lebih mendasar: ketiadaan desain besar. Dalam situasi itu, pariwisata Lindu kerap berjalan tak lebih dari sekadar janji menguat di wacana, namun lemah dalam perencanaan.
“Selama ini kita belum melihat desain yang jelas untuk destinasi Lindu,” kata Rifai.
Pernyataan ini menggeser diskursus dari “apa yang dimiliki Lindu” menjadi “bagaimana Lindu dikelola”. Dalam logika pembangunan, pergeseran ini krusial. Tanpa desain, potensi hanya menjadi daftar keunggulan yang tak saling terhubung.
Bukan Sekadar Danau, Tapi Sistem Sosial-Ekonomi
Rifai menegaskan, desain yang dimaksud bukan sebatas tata ruang wisata. Ia merujuk pada pendekatan menyeluruh: budaya, ekonomi, lingkungan, pendidikan, hingga aspek sosial.
Artinya, Lindu tidak bisa diposisikan sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai ekosistem.
Dalam kerangka ini, pariwisata bukan tujuan akhir, tetapi pintu masuk. Yang dipertaruhkan bukan hanya jumlah wisatawan, melainkan dampak ekonomi, keberlanjutan lingkungan, serta posisi masyarakat lokal dalam rantai manfaat.
Tanpa itu, pengembangan wisata berisiko menjadi ekstraktif: ramai di luar, tetapi minim manfaat bagi warga.
Masalah Klasik: Fiskal Tanpa Arah
Dalam sejumlah praktik pengembangan destinasi di daerah lain, keberadaan desain terpadu terbukti menjadi penentu arah. Kawasan wisata yang ditopang perencanaan matang cenderung tumbuh lebih konsisten, baik dari sisi kunjungan maupun dampak ekonomi lokal. Sebaliknya, tanpa desain yang jelas, pengembangan sering terjebak pada proyek jangka pendek yang tidak saling terhubung.
Rifai juga menyinggung keterbatasan fiskal daerah realitas yang tak bisa dihindari. Namun, ia menolak menjadikannya alasan stagnasi.
Menurut dia, justru dalam keterbatasan itu, desain menjadi kunci.
“Kalau ada desain, kita tahu harus mulai dari mana, bertahap, dan dampaknya bisa langsung terasa,” ujarnya.
Dalam praktik pembangunan daerah, banyak program gagal bukan karena kekurangan dana, melainkan karena ketiadaan peta jalan. Akibatnya, pembangunan berjalan sporadis dimulai di banyak titik, tetapi tak pernah benar-benar tuntas.
Siapa Melakukan Apa
Hal yang kerap luput adalah pembagian peran. Rifai menekankan pentingnya kejelasan aktor: masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, hingga kelompok sipil dan pemuda.
Tanpa kejelasan ini, kolaborasi hanya menjadi jargon.
Desain, dalam konteks ini, bukan sekadar dokumen. Ia adalah alat koordinasi menentukan siapa berbuat apa, kapan, dan untuk tujuan apa. Tanpa itu, pengembangan Lindu berpotensi berjalan sendiri-sendiri dan saling melemahkan.
Apresiasi yang Bersyarat
Rifai menyatakan apresiasi terhadap langkah pemerintah daerah. Namun, apresiasi itu tidak tanpa catatan. Ia menegaskan, upaya apa pun tidak akan maksimal tanpa desain yang matang.
Di titik ini, kritiknya tidak frontal, tetapi jelas. Pemerintah dinilai sudah bergerak, namun belum memiliki fondasi yang cukup kuat untuk memastikan arah pembangunan.
Ujian Serius Pengelolaan Lindu
Pernyataan Rifai menempatkan Lindu dalam satu ujian besar: apakah ia akan terus menjadi potensi yang dibicarakan, atau berubah menjadi sistem yang dikelola.
Kuncinya bukan pada seberapa sering Lindu dipromosikan, melainkan seberapa serius ia dirancang.
Tanpa desain, Lindu akan terus berada dalam siklus lama: disebut strategis, tetapi berjalan di tempat.
Dengan desain, bahkan keterbatasan fiskal dapat menjadi strategi bukan hambatan.
Dan di situlah, masa depan Lindu sedang diputuskan.
Pewarta: a6/in
Editor: Redaksi Interkini.co
Artikel Terkait: Lindu di Persimpangan: Ambisi Wisata, Realitas Infrastruktur, dan Harapan Ekonomi Lokal





1 Komentar