EditorialLaporan Utama: Lindu

Editorial: Kerja Bakti Tak Cukup, Danau Lindu Butuh Keputusan

Danau Lindu tidak kekurangan kepedulian. Yang kurang adalah keputusan.

INTERKINI.CO — Sejak 2025, masyarakat Lindu berulang kali turun tangan. Kerja bakti massal digelar, lintas desa bergerak, relawan dilibatkan. DPRD hadir di lapangan. Dinas Lingkungan Hidup menyatakan dukungan. Koordinasi lintas sektor dibicarakan. Semua tampak berjalan.

Namun satu hal tak berubah: enceng gondok tetap tumbuh.

Di sinilah letak persoalannya. Upaya yang ada belum beranjak dari pola respons sesaat, bukan kebijakan yang dirancang untuk menuntaskan masalah. Kerja bakti, betapapun pentingnya, hanya memindahkan gulma dari air ke darat. Ia tidak menyentuh akar persoalan: pengendalian yang berkelanjutan dan terintegrasi.

Pengakuan Dinas Lingkungan Hidup tentang keterbatasan anggaran memperjelas situasi. Danau Lindu belum benar-benar ditempatkan sebagai prioritas. Pemantauan dua kali setahun tidak sebanding dengan laju kerusakan yang berlangsung setiap hari. Sementara itu, persoalan lain sampah, aktivitas perahu, hingga menurunnya hasil perikanan terus berjalan tanpa intervensi memadai.

Di sisi lain, pemerintah kerap menyebut Danau Lindu sebagai aset ekowisata. Klaim ini tidak keliru. Namun tanpa kebijakan konkret, ia mudah berubah menjadi jargon pembangunan. Pariwisata tidak tumbuh dari pernyataan, melainkan dari ekosistem yang terjaga.

Ironisnya, peluang justru sudah terbuka. Enceng gondok tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat. Potensi ini bahkan diakui pemerintah. Namun hingga kini, belum terlihat langkah nyata untuk mengembangkannya sebagai program berbasis masyarakat dan UMKM.

Persoalan Danau Lindu pada akhirnya bukan sekadar soal gulma air. Ini adalah cermin arah kebijakan. Ketika masyarakat terus bergerak, tetapi pemerintah belum menghadirkan sistem yang bekerja, yang terjadi hanyalah pengulangan masalah.

Kerja bakti telah membuktikan satu hal: masyarakat tidak tinggal diam. Mereka telah melakukan bagiannya. Kini giliran pemerintah memastikan arah bukan sekadar hadir, melainkan bekerja secara konsisten dan berkelanjutan.

Tanpa perubahan arah, enceng gondok akan terus kembali. Dan setiap kemunculannya bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan penanda bahwa keputusan yang dibutuhkan belum pernah benar-benar diambil.

Catatan Redaksi:
Editorial ini disusun redaksi Interkini.co berdasarkan perkembangan penanganan enceng gondok di Danau Lindu sejak 2025 hingga 2026. Fakta bahwa persoalan ini masih berulang menunjukkan penanganan belum berjalan sebagai kebijakan yang utuh. Ketika masalah terus kembali, yang layak diuji bukan lagi kesadaran warga, melainkan konsistensi pemerintah dalam bekerja. Tanpa itu, setiap upaya hanya akan menjadi siklus kegiatan datang, hilang, lalu terulang.

Baca juga:

Editor: Redaki Interkini.co

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.