Kisah Sekolah Komunal Vonggo di Pegunungan Sigi
Cahaya yang Hampir Padam di Ujung Negeri: Upaya Komunitas Mahasiswa dan Warga Menerangi Pendidikan di Pegunungan Sigi

INTERKINI.CO, SIGI – Di balik gunung-gunung sunyi dan jalan berlumpur yang jarang terjamah, terdapat sebuah dusun kecil bernama Vonggo, yang terletak di Desa Bakubakulu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, anak-anak di dusun ini terus berjuang menyalakan harapan lewat pendidikan yang sederhana.
Perjalanan menuju Vonggo bukanlah hal mudah. Jalan menanjak, berlumpur, dan berliku membuat siapa pun yang datang harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Namun, di ujung jalan itu berdiri sebuah bangunan sederhana yang menjadi simbol harapan: Sekolah Komunal Vonggo (SKV).
Sekolah ini berdiri hampir lima tahun lalu atas inisiatif Komunitas Mahasiswa Antropologi (Komunal) Universitas Tadulako bersama masyarakat setempat. SKV hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak Vonggo yang selama ini sulit mengakses pendidikan formal.
Di sekolah non-formal tersebut, anak-anak diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, mereka juga belajar tentang karakter, kebersamaan, dan nilai-nilai budaya lokal.
Namun perjuangan itu tidak tanpa kendala. Keterbatasan tenaga pengajar tetap membuat proses belajar-mengajar tidak berjalan maksimal. Banyak anak yang hingga kini belum bisa membaca atau menulis dengan lancar.
“Harapan kami dari Komunal, bersama masyarakat, semoga SKV ini bisa memiliki legalitas dan mampu mengeluarkan ijazah agar anak-anak tidak perlu turun jauh ke bawah,”
ujar Aljun Kunawan, Dewan Adat Komunal, saat ditemui di Vonggo.
Meski berdiri dengan fasilitas terbatas, SKV menjadi wujud nyata gotong royong antara mahasiswa dan masyarakat dalam menjaga nyala pendidikan di pelosok negeri. Di tengah segala keterbatasan, semangat anak-anak Vonggo untuk belajar tetap menyala meski cahayanya hampir padam.
Kini, masyarakat dan para relawan berharap pemerintah dapat memberikan perhatian nyata. Tidak hanya hadir dengan program dan janji, tetapi dengan tindakan konkret: membangun sekolah, menghadirkan guru, menyediakan buku, dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
Sebab, pendidikan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang tinggal di kota. Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, di mana pun mereka dilahirkan termasuk di ujung negeri bernama Vonggo.
(ad/tm/in)




