Suara Pemulung

Aku, Sampah, dan Rumah-Rumah Baru di Sigi

Catatan dari pinggir jalan tentang pembangunan, sampah, dan ruang hidup yang kerap luput dari perencanaan.

Aku sering berdiri di pinggir jalan. Dari sana, aku menyaksikan Sigi berubah. Rumah-rumah baru datang beriringan, rapi, membawa janji kehidupan yang lebih baik. Namun di kaki-kaki bangunan itu, ada cerita lain yang jarang dibicarakan: sampah yang tak punya alamat.

Sampah itu tak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kehidupan yang baru tumbuh dari dapur yang menyala, dari belanja yang dibungkus plastik, dari rutinitas harian yang sepenuhnya wajar. Yang menjadi soal adalah ketika sisa-sisa kehidupan itu tak disertai ruang dan sistem yang jelas untuk menampungnya.

Aku bertanya-tanya, apakah setiap rumah baru juga dibangun bersama rencana tentang ke mana sampahnya akan dibuang? Ataukah kita terlalu percaya bahwa lingkungan akan selalu menyediakan ruang, betapa pun terus kita bebani?

Aku tak sedang marah. Aku hanya mencatat. Di banyak titik, sampah akhirnya memilih bahu jalan dan selokan sebagai tempat tinggal. Ia tak bersuara, tetapi dampaknya perlahan terasa. Bau, genangan, hingga risiko kesehatan datang belakangan setelah euforia pembangunan selesai dirayakan.

Barangkali pembangunan memang perlu dipercepat. Namun kesadaran lingkungan tak bisa ditunda. Rumah tanpa sistem pengelolaan sampah yang jelas hanya memindahkan persoalan dari satu ruang ke ruang lain, dari halaman rumah ke ruang publik.

Aku percaya, menjaga lingkungan bukan soal mencari siapa yang salah, melainkan tentang bagaimana kita merencanakan hidup bersama. Dan mungkin, suara dari pinggir jalan ini perlu lebih sering didengar sebelum sampah berbicara lebih keras melalui dampaknya.


🟤 Tentang Penulis

Suara Pemulung
Penulis adalah pengelola Interkini.co yang menulis di bawah rubrik Suara Pemulung. Melalui suara sederhana dari pinggir jalan, ia menyampaikan refleksi tentang kehidupan, kemanusiaan, dan kejujuran sosial yang kerap terabaikan.

Show More

Related Articles

Back to top button