Sekolah Rusak Bertahun-tahun, Siswa Belajar di Ruang Tak Layak di Sigi
INTERKINI.CO, SIGI- Kondisi SD Negeri Tokelemo di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, masih jauh dari standar kelayakan pendidikan dasar. Sekolah dasar satu-satunya di kawasan transmigrasi itu mengalami kerusakan ruang belajar selama bertahun-tahun tanpa perbaikan.
Dari enam ruang belajar yang tersedia, ruang kelas enam menjadi yang paling parah. Lantai berlubang ditimbun tanah dan batu agar tetap bisa dipijak. Meja dan kursi rusak ditumpuk di dalam kelas bagian belakang, sementara perabot yang masih dapat digunakan disusun di atas timbunan agar kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung. Kondisi serupa terjadi di kelas lima. Papan tulis berlubang dan kursi rusak masih digunakan siswa setiap hari. Keterbatasan ruang membuat kelas lima terpaksa menempati bangunan darurat berbahan papan yang dibangun pascagempa.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh siswa. “Kami berjumlah kurang lebih sepuluh orang di kelas lima. Banyak kursi dan meja rusak. Di pojok dekat WC itu kelas enam, lantainya rusak dan berabu,” kata Mawar (bukan nama sebenarnya), siswi kelas lima SD Negeri Tokelemo, saat ditemui Minggu, 1 Februari 2026.
Fasilitas pendukung sekolah juga memprihatinkan. SD Negeri Tokelemo hanya memiliki satu unit WC yang terbuat dari papan dan tidak sepenuhnya layak digunakan. Ruang kantor guru menumpang di perpustakaan, sehingga mengganggu fungsi ruang baca bagi siswa. Di halaman sekolah, tiang bendera berdiri dengan bendera merah putih yang lusuh dan warnanya pudar.
Warga setempat mengakui kondisi sekolah tersebut telah berlangsung lama. “Sekolah ini aktif, tapi memang sudah lama seperti ini. Mau bagaimana lagi, anak-anak harus tetap sekolah,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Kepala SD Negeri Tokelemo, Ridwan, mengatakan dirinya telah bertugas di sekolah tersebut selama lebih dari dua tahun. Saat ditemui pada Minggu, 1 Februari 2026, Ia mengakui kondisi gedung dan mebeler sekolah banyak yang rusak. Menurut dia, keterbatasan anggaran dan ruang membuat pihak sekolah hanya mampu melakukan perbaikan darurat. “Kami tidak punya gudang. Banyak meja dan kursi rusak terpaksa ditumpuk di dalam ruangan. Kalau diletakkan di luar, justru lebih berbahaya,” kata Ridwan.
Sekolah ini memiliki 61 siswa. Namun keterbatasan ruang belajar membuat sebagian kegiatan belajar harus berlangsung di bangunan darurat. Ridwan menyebut kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan dan kenyamanan siswa.
Kondisi SD Negeri Tokelemo mencerminkan persoalan layanan pendidikan dasar di wilayah terpencil. Kerusakan ruang kelas yang berlangsung lama menunjukkan lemahnya pemenuhan standar minimal sarana pendidikan. Di tengah keterbatasan tersebut, siswa tetap harus belajar di ruang yang tidak sepenuhnya aman dan layak.
Kerusakan ini bukan semata persoalan fisik bangunan, melainkan cerminan persoalan kebijakan pendidikan di tingkat daerah. Pembiaran ruang kelas rusak dalam jangka panjang memperlihatkan belum optimalnya perencanaan dan pengawasan pemenuhan sarana pendidikan dasar, khususnya di wilayah terpencil.
Hingga berita ini diturunkan, interkini.co masih berupaya mengonfirmasi pemerintah daerah dan instansi terkait mengenai kondisi sarana pendidikan di SD Negeri Tokelemo.
Kondisi ruang belajar yang rusak dan dibiarkan bertahun-tahun itu terjadi di tengah adanya program rehabilitasi sekolah dasar yang dilaksanakan pemerintah pada akhir 2025. Namun bantuan tersebut tidak menjangkau seluruh ruang kelas yang mengalami kerusakan.
Penulis: Tim Investigasi Interkini.co
Editor: Tim Redaksi Interkini.co
Berita Terkait : Rehabilitasi Terbatas Tak Menjawab Kerusakan Ruang Kelas di SD Negeri Tokelemo





3 Comments