Haul Guru Tua dan Warisan Kebersamaan yang Terus Hidup

INTERKINI.CO, PALU — Haul Guru Tua bukan sekadar peringatan tahunan. Nama Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau yang akrab disapa Guru Tua selalu menghadirkan keteladanan dan kebersamaan di tengah umat.
Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sosok yang menghadirkan perpaduan antara keteladanan pribadi dan kekuatan masyarakat.
Dari perpaduan itulah lahir sebuah karya besar yang terus hidup hingga kini: Alkhairaat. Jaringan madrasah yang dibangun Guru Tua bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi menjadi simbol kehadiran dan pengabdian beliau di tengah masyarakat.
Makna Haul Guru Tua dalam Kehidupan Umat
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Alkhairaat, Drs. Jamaludin Mariajang, menjelaskan bahwa memahami Guru Tua tidak bisa dipisahkan dari peran sosialnya.
“Ketika kita melihat madrasah Alkhairaat, sesungguhnya kita sedang menyaksikan mahakarya Guru Tua sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, Guru Tua menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem sosial, bukan di luar atau di atasnya. Hal ini tercermin dari inisiatif beliau membentuk PB Alkhairaat pada 1956 sebagai representasi struktural dari kekuatan umat.
Sejak wafatnya pada 1969, pelaksanaan Haul Guru Tua secara konsisten berada dalam koordinasi PB Alkhairaat. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi pembeda dengan pelaksanaan haul di berbagai tempat lainnya.
Haul Guru Tua dan Warisan Alkhairaat
Dalam sejarahnya, Guru Tua juga pernah memimpin Alkhairaat dengan sebutan “Presiden Alkhairaat”, yang kini secara struktural dikenal sebagai Ketua Utama Alkhairaat. Dari struktur inilah, penetapan panitia haul dilakukan secara organisasional dan menjadi bagian dari tata kelola yang telah berjalan lama.
Peringatan haul yang dilaksanakan setiap 12 Syawal bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi momen penting untuk mengenang perjalanan dan perjuangan Guru Tua dalam menyalakan pelita pendidikan, khususnya dalam pemahaman ajaran Islam di tengah masyarakat.
Melalui Haul Guru Tua, nilai kebersamaan terus dijaga dari generasi ke generasi.
Lebih dari itu, haul menjadi ruang untuk merawat nilai-nilai yang diwariskan tentang kebersamaan, pengabdian, dan peran umat dalam menjaga keberlanjutan pendidikan dan dakwah.
Warisan itu kini terus hidup, tidak hanya dalam bangunan madrasah, tetapi juga dalam ingatan dan praktik kehidupan masyarakat yang tetap menjadikan Guru Tua sebagai teladan.
Pada akhirnya, Haul Guru Tua bukan hanya tentang mengenang, tetapi tentang menjaga agar nilai kebersamaan itu tetap hidup di tengah umat.
Pewarta: a6/rls/in
Editor: Redaksi Interkini.co
Baca Juga: Sejumlah Menteri Dijadwalkan Hadiri Haul ke-58 Guru Tua di Palu





1 Komentar