Kiprah dan Jejak Perjuangan Guru Tua, Inspirasi Pendidikan dan Dakwah di Nusantara
INTERKINI.CO, PALU — Nama Sayyid Idrus bin Salim Aljufri tak hanya dikenang sebagai ulama, tetapi juga sebagai penanda arah dalam perjalanan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia, khususnya di kawasan timur Nusantara.
Di tengah keterbatasan zamannya, Guru Tua membangun fondasi yang tidak sekadar melahirkan lembaga pendidikan, tetapi juga membentuk cara pandang tentang ilmu, akhlak, dan kemanusiaan.
Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat ini dikenal sebagai sosok yang sabar dan telaten dalam membina para muridnya. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah jalan membentuk manusia seutuhnya.
Pendidikan yang Membumi
Bagi Guru Tua, pendidikan bukan sekadar ruang kelas. Ia hadir sebagai proses yang hidup, berakar pada realitas masyarakat, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Rais Syuriyah PBNU, KH. Zainal Abidin, menilai keikhlasan Guru Tua menjadi kunci utama dalam perjalanan dakwah dan pendidikannya.
“Beliau sangat menghargai budaya dan kearifan lokal, lalu menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Jika ada yang tidak sejalan, diluruskan dengan cara yang bijak,” ujarnya, Selasa (31/3).
Pendekatan ini menjadikan dakwah Guru Tua tidak terasa sebagai paksaan, melainkan sebagai proses yang diterima secara alami oleh masyarakat.
Toleransi sebagai Praktik, Bukan Sekadar Wacana
Salah satu jejak penting yang diwariskan Guru Tua adalah sikap terbuka terhadap perbedaan.
Dalam praktik pendidikan di Alkhairaat, ia pernah mempercayakan pengajaran ilmu aljabar kepada seorang guru non-Muslim. Tidak berhenti di situ, Guru Tua juga secara aktif memantau perkembangan pembelajaran di kelas tersebut.
Bagi Zainal Abidin, hal ini menjadi bukti bahwa nilai toleransi tidak hanya disampaikan dalam ceramah, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Ini menunjukkan bagaimana beliau menjunjung tinggi sikap saling menghargai, termasuk kepada tokoh lintas agama,” katanya.
Jejak Pengabdian yang Tak Lekang
Perjalanan Guru Tua tidak lepas dari pengorbanan. Ia membangun pendidikan dan dakwah dari keterbatasan, namun dengan keyakinan yang kuat.
Semangat itulah yang kemudian melahirkan generasi-generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan moral dan spiritual.
Dalam setiap momentum peringatan haul, nilai-nilai tersebut kembali dihidupkan bukan sekadar dikenang, tetapi dijadikan pijakan untuk melangkah ke depan.
Warisan yang Terus Menyala
Hari ini, jejak perjuangan Guru Tua masih terasa. Tidak hanya dalam lembaga pendidikan yang terus berkembang, tetapi juga dalam cara berpikir dan bersikap umat.
Warisan itu hidup dalam nilai: keikhlasan, toleransi, dan komitmen pada pendidikan sebagai jalan membangun peradaban.
“Warisan pemikiran dan perjuangan Guru Tua hingga kini tetap hidup dan menjadi pedoman bagi generasi penerus dalam membangun peradaban yang berilmu, toleran, dan berakhlak mulia,” pungkas Zainal Abidin.
Pewarta: rls/in
Editor: Redaksi Interkini.co




