Di Balik Stan Berbagi Haul Guru Tua, Ada Peran RSUD Tora Belo
INTERKINI.CO, PALU — Di tengah lautan jemaah yang memadati Kompleks Alkhairaat Pusat, Rabu, 1 April 2026, pada puncak Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, ada satu pemandangan yang kerap luput dari perhatian: tangan-tangan yang bekerja dalam diam.
Dari balik stan sederhana, mereka menyiapkan dan membagikan makanan serta minuman menyambut jemaah yang datang dari berbagai daerah, membawa kerinduan dan kecintaan kepada sosok ulama besar.
Di sanalah, makna haul tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam tindakan nyata.
Salah satu kontribusi itu datang dari RSUD Torabelo, yang mengambil bagian dalam mendukung penyediaan konsumsi gratis bagi jemaah. Bantuan tersebut disalurkan melalui stan pelayanan yang dikelola tim kreatif Interkini.co bersama tim kreatif Bidiksulteng.com sebuah titik kecil di tengah keramaian, namun menjadi ruang yang berarti bagi banyak orang.
Berbagi yang Tidak Diukur dari Besarnya
Humas RSUD Tora Belo, Aminuddin, menuturkan bahwa dukungan yang diberikan bukan semata tentang nilai, melainkan tentang makna.
“Donasi ini kami percayakan kepada tim kreatif Interkini–Bidiksulteng di lapangan untuk disalurkan. Nilainya mungkin tidak seberapa, tetapi makna berbagi untuk menjamu tamu haul ini sangat besar manfaatnya,” ujarnya.
Pernyataan itu mengandung pelajaran sederhana namun penting: bahwa dalam ruang-ruang sosial seperti haul, ukuran kontribusi tidak selalu ditentukan oleh angka, melainkan oleh keikhlasan dan kebermanfaatannya.
Di tengah ribuan jemaah, satu gelas air atau satu bungkus makanan bisa menjadi penguat langkah bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi rasa kebersamaan.
Haul sebagai Ruang Sosial
Direktur RSUD Tora Belo, Diah Ratnaningsih, melihat keterlibatan ini sebagai bagian dari nilai yang lebih luas yang terus dijaga dalam tradisi haul.
“Partisipasi ini adalah bagian dari upaya menghidupkan nilai berbagi di tengah masyarakat, khususnya dalam momentum haul yang sarat makna,” ujarnya.
Baginya, haul juga merupakan ruang sosial yang mempertemukan kepedulian lintas profesi dan latar belakang.
Di ruang inilah, nilai-nilai yang diajarkan Guru Tua tentang keikhlasan, pengabdian, dan kemanusiaan menemukan bentuk nyatanya.
Belajar dari Kepedulian Kecil
Di sisi lain, koordinator tim kreatif Interkini–Bidiksulteng, Adnan Tendenag, memandang stan berbagi ini sebagai ruang pembelajaran bersama.
“Kami sangat berterima kasih atas kontribusi dari RSUD Tora Belo. Semoga apa yang diberikan menjadi amal dan membawa keberkahan bagi kita semua,” katanya.
Lebih dari itu, menurutnya, kegiatan seperti ini mengajarkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu menjadi besar.
Dari hal-hal sederhana menyediakan minuman, membagikan makanan, atau sekadar menyapa terbangun sebuah jembatan sosial yang menguatkan satu sama lain.
Menghidupkan Warisan Nilai
Sejak lama, haul Guru Tua dikenal bukan hanya sebagai momentum zikir dan doa, tetapi juga sebagai ruang untuk menghidupkan warisan nilai.
Nilai itu tidak selalu hadir dalam kata-kata, tetapi justru tampak dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus.
Di tengah keramaian yang nyaris tak berjarak, stan berbagi menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual selalu berjalan berdampingan dengan kepedulian sosial.
Bahwa mencintai Guru Tua bukan hanya mengenang, tetapi juga meneladani dengan cara-cara sederhana yang memberi manfaat bagi sesama.
Di tengah arus jemaah yang terus bergerak, mungkin tak semua orang menyadari siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Namun di sanalah maknanya: ketika kebaikan bekerja tanpa perlu disebut, tetapi tetap terasa.
Baca Juga: Tim Kreatif Interkini-Bidiksulteng Buka Stan, 1.300 Paket Dibagikan di Haul Guru Tua
Pewarta: a6/in
Editor: Redaksi Interkini.co




