Poindo Kasuli (Lampu Petromax)


Ada masa ketika malam di kampung tidak terlalu terang. Jalanan cepat sunyi, rumah-rumah menutup pintunya lebih awal, dan langit terasa lebih dekat karena tidak banyak lampu yang menantangnya. Pada masa itu, satu cahaya sering menjadi pusat kehidupan di dalam rumah: dalam dialek suku Kaili di Sigi disebut Poindo Kasuli, lampu petromax yang digantung di tengah ruangan.
Bunyi desisnya pelan, seperti napas yang menjaga agar malam tidak sepenuhnya gelap. Cahayanya putih dan kuat, cukup untuk membuat satu ruangan kecil menjadi tempat berkumpul. Orang tua duduk di sudut rumah, kadang memperbaiki sesuatu, kadang hanya berbincang pelan tentang hari yang telah lewat. Di lantai yang sama, anak-anak membuka buku pelajaran.
Tidak ada meja belajar yang rapi. Tidak ada lampu khusus untuk membaca. Yang ada hanya satu cahaya yang dipakai bersama. Anak-anak duduk melingkar di bawah Poindo Kasuli, menulis pelan-pelan di buku tulis yang kertasnya kadang sudah mulai tipis. Mereka membaca berulang-ulang agar pelajaran bisa tinggal lebih lama di kepala.
Lampu itu juga tidak selalu setia. Kadang cahayanya meredup dan harus dipompa lagi agar kembali terang. Kadang harus dibersihkan supaya nyalanya tidak berubah menjadi kuning. Tetapi justru dari situlah pelajaran kecil lahir tanpa banyak ceramah. Anak-anak belajar bahwa terang tidak datang begitu saja. Ia harus dijaga, dirawat, dan kadang diperjuangkan.
Sekarang malam jauh lebih terang. Listrik menyala hampir di setiap rumah. Lampu hidup hanya dengan menekan sakelar. Bahkan layar kecil di tangan kita bisa menerangi wajah sepanjang malam tanpa perlu dipompa atau dibersihkan.
Namun di tengah terang yang melimpah itu, ada pemandangan yang sering membuat orang tua hanya bisa menarik napas pelan. Cahaya semakin banyak, tetapi buku semakin jarang disentuh. Malam masih panjang, tetapi banyak yang lebih sibuk menggulir layar daripada membuka halaman.
Dulu anak-anak menunggu lampu dinyalakan agar bisa belajar. Sekarang lampu menyala sepanjang malam, tetapi yang sering tetap padam adalah keinginan untuk membuka buku.
Aku tidak sedang mengatakan bahwa masa lalu selalu lebih baik. Zaman memang berubah, dan perubahan tidak pernah menunggu siapa pun. Tetapi ada sesuatu yang bergeser pelan-pelan: dulu cahaya dicari karena orang membutuhkan terang untuk belajar. Sekarang cahaya begitu mudah didapat, sampai-sampai orang sering lupa untuk apa terang itu sebenarnya ada.
Di sekitar satu Poindo Kasuli, banyak anak belajar menulis masa depannya. Dari cahaya sederhana itu lahir guru, pegawai, pedagang, dan orang-orang yang kelak ikut memimpin kampungnya sendiri. Bukan karena lampunya luar biasa, tetapi karena mereka yang duduk di bawahnya tidak menyia-nyiakan terang yang ada.
Hari ini kita memiliki listrik yang lebih stabil, lampu yang lebih terang, dan perangkat yang jauh lebih canggih. Tetapi kadang yang justru terasa langka adalah kesungguhan untuk belajar. Kita berhasil membuat malam menjadi terang, tetapi belum tentu berhasil membuat pikiran tetap menyala.
Dari sudut rumah yang kini jauh lebih terang dari masa itu, aku kadang bertanya pelan-pelan: jika dulu satu lampu saja cukup menumbuhkan banyak harapan, mengapa sekarang ketika cahaya ada di mana-mana kita justru lebih sering kehilangan alasan untuk belajar di bawahnya?
Tentang Penulis
Suara Pemulung
Penulis adalah pengamat kehidupan sosial yang menulis dari sudut-sudut sederhana kehidupan. Melalui catatan ringan dari pinggir jalan, ia mencoba menangkap perubahan zaman dan makna yang sering terlewat dalam keseharian.



