BerandaLaporan Utama

Mohamad Oktafian, Akademisi Asal Sigi yang Menata Arah Baru Prodi HTNI UIN Datokarama Palu

INTERKINI.CO, PALU — Dari Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, seorang akademisi muda kini memikul tanggung jawab baru di lingkungan UIN Datokarama Palu. Ia adalah Mohamad Oktafian, S.Sy., M.H., dosen yang baru saja dipercaya menjadi Koordinator Program Studi Hukum Tata Negara Islam (HTNI) di Fakultas Syariah.

Saat dihubungi melalui WhatsApp, Sabtu (31 Januari 2026), Oktafian berbicara tenang namun penuh makna. Jabatan baru ini, katanya, bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Yang paling penting dari jabatan ini adalah bagaimana menjalankan tugas berdasarkan amanah regulasi dan semangat Tri Dharma yang diterjemahkan melalui visi dan misi universitas hingga ke tingkat prodi,” ujarnya.

Oktafian menyampaikan apresiasi kepada pimpinan kampus yang mempercayakan amanah tersebut serta kepada media yang memberi ruang bagi dinamika akademik. “Saya berterima kasih kepada Interkini.co yang telah menyapa kami lewat wawancara ini,” katanya.

Meneruskan yang Sudah Terbangun

Di awal masa jabatannya, Oktafian tak ingin langsung membuat gebrakan baru. Ia memilih langkah hati-hati: melanjutkan program yang telah disusun sebelumnya.

“Fokus saya adalah berkomunikasi dengan kaprodi sebelumnya untuk menimba pengalaman, lalu meminta arahan dari Ketua Jurusan Ilmu Hukum mengenai tindak lanjut program yang sudah diagendakan,” tuturnya.

Menurutnya, kesinambungan adalah kunci agar program studi tetap solid. “Tidak ada yang benar-benar baru. Melalui restrukturisasi, kinerja prodi kini semakin terorganisir dengan arahan ketua dan sekretaris jurusan sebagai nakhoda tim,” ia menambahkan.

Menyiasati Tantangan Tata Kelola

Oktafian menyadari jabatan koordinator prodi membawa beban lebih besar dibanding sistem lama. “Sebelumnya tata kelola dijalankan oleh ketua dan sekretaris prodi, sekarang cukup oleh koordinator. Ini tanggung jawab berat,” katanya.

Namun ia yakin, tantangan itu bisa dijalankan dengan komunikasi yang elegan. “Kuncinya harmoni antarlembaga. Dengan dukungan kajur, sekjur, para wakil dekan, dan dekan, kami bekerja sebagai satu tim.”

Mengawal Visi dan Kualitas Akademik

Ia menilai visi prodi tak perlu diubah. Yang penting adalah menghidupkannya dalam praktik.
“Cukup berkaca pada visi, misi, dan strategi yang telah ada. Dalam pelaksanaannya kami tetap berkoordinasi dengan tim dan pimpinan, memanfaatkan pengalaman mereka,” ujar Oktafian.

Untuk meningkatkan mutu mahasiswa, ia berpegang pada prinsip bahwa inovasi lahir dari kepatuhan terhadap rencana strategis. “Jika pedoman dijalankan dan dievaluasi, strategi baru akan muncul secara alamiah tanpa berbenturan dengan aturan,” katanya.

Dosen Berkualitas, Mahasiswa Berdaya Saing

Oktafian memuji soliditas tenaga pengajar di prodi yang dipimpinnya. “Seluruh dosen telah memiliki sertifikat pendidik. Beberapa di antaranya berkontribusi dalam penyusunan bahan kajian regulasi, pernah menduduki jabatan publik, dan aktif dalam penyuluhan hukum,” ujarnya.

Mahasiswa HTNI, lanjutnya, dibekali pemahaman komparatif antara hukum positif dan hukum Islam. “Selain memahami hukum nasional, mereka juga mempelajari siyasah syar’iyyah untuk melihat politik hukum dari perspektif Islam,” jelasnya.

Jembatan Agama dan Negara

Sebagai penutup, Oktafian menitip pesan kepada generasi muda. “Kuliah di HTNI adalah pilihan tepat sekaligus jembatan pengetahuan untuk memahami hubungan agama dan negara secara humanis dalam bingkai Pancasila,” katanya.

Baginya, negara dan agama bukan dua hal yang bertentangan. “Negara mengatur kebebasan dan toleransi antarumat beragama, sementara agama memperbaiki moralitas warga negara untuk mencapai cita-cita luhur dalam bernegara,” ujarnya.

Usai wawancara, Oktafian sempat mengirim pesan singkat. “Terima kasih dan mohon maaf sebesar-besarnya karena mulai kemarin saya sibuk di hajatan tetangga sekaligus keluarga sehingga slow respon,” tulisnya dengan nada bersahaja.

Sebuah pesan singkat yang menggambarkan kepribadiannya: santun, sederhana, dan tulus karakter khas akademisi muda dari Sigi yang tengah menata arah baru Prodi Hukum Tata Negara Islam UIN Datokarama Palu.


Laporan Khusus | Interkini. co
Penulis: Ahmad Gasalele
Editor: Redaksi Interkini.co

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.