Karhutla 110 Hektare di Parigi Moutong Masih Berlangsung
INTERKINI.CO, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menghanguskan sekitar 110 hektare lahan perkebunan dan lahan kosong. Hingga Senin, 2 November 2026, api masih ditemukan di sejumlah titik sehingga upaya pemadaman terus dilakukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian tersebut dalam laporan perkembangan situasi bencana periode Senin, 2 November 2026, pukul 07.00 WIB hingga Selasa, 3 November 2026, pukul 07.00 WIB. Laporan itu juga memuat sejumlah bencana lain, mulai dari kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA), banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem di berbagai daerah.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan karhutla di Parigi Moutong terjadi di Desa Gunung Sari, Kecamatan Bolano Lambunu, pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 11.10 WITA.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Kabupaten Parigi Moutong, TNI, Polri, pemadam kebakaran, Satpol PP, dan masyarakat telah melakukan pemadaman hingga tahap pendinginan. Namun, kondisi medan dan keterbatasan sumber air menjadi kendala penanganan di lapangan. Kebutuhan peralatan pemadam juga masih diperlukan.
Kebakaran lainnya terjadi di Desa Ganongol Sari, Kecamatan Bolano Lambunu, pada Minggu, 1 November 2026, sekitar pukul 16.00 WITA. Api menghanguskan sekitar satu hektare lahan. Kebakaran tersebut diduga dipicu pembakaran lahan secara sengaja.
BPBD bersama TNI, Polri, relawan, Satpol PP, aparat desa, dan masyarakat melakukan koordinasi serta pemadaman. Setelah hujan turun, petugas masih menemukan asap dari dalam tanah di sejumlah titik. Kondisi itu diduga berasal dari bara api yang tersimpan di lapisan tanah gambut.
Selain di Sulawesi Tengah, karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kebakaran melanda kawasan Bukit Embung Purbasari, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, pada Senin, 2 November 2026, sekitar pukul 08.30 WIB.
Kebakaran yang dipicu pembakaran sampah tidak terkendali tersebut menghanguskan sekitar 1,6 hektare lahan milik Perhutani. Tidak ada korban jiwa. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Kabupaten Klaten, Masyarakat Peduli Api, Perhutani, relawan, dan warga berhasil memadamkan api pada pukul 13.02 WIB.
Sementara itu, kebakaran TPA Degayu di Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, terjadi pada Minggu, 1 November 2026, sekitar pukul 11.30 WIB. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 1,5 hektare.
Hingga Senin, 2 November 2026, api belum berhasil dipadamkan. BPBD Kota Pekalongan berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk melakukan asesmen dan penanganan. Posko lapangan serta dapur umum juga telah didirikan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Dinas Sosial. Bantuan logistik disalurkan untuk mendukung petugas dan masyarakat terdampak.
Banjir Berdampak pada Ribuan Keluarga
Di Jawa Timur, banjir melanda Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Di Lumajang, hujan berintensitas tinggi pada 1–2 November 2026 menyebabkan luapan sungai, tanggul jebol, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Dampaknya tersebar di tiga kecamatan, yakni Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari, yang mencakup delapan desa: Gondoruso, Rojopolo, Purorejo, Tempursari, Bulurejo, Punorejo, Kaliuling, dan Pundungsari.
Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 1.417 kepala keluarga (KK) dan 1.417 rumah terdampak. Bencana tersebut juga mengganggu akses jalan, jaringan listrik, serta lahan pertanian.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Lumajang melakukan penanganan dan pendataan di sejumlah lokasi. Petugas juga membuka akses jalan yang terdampak longsor pada jalur tembus Tamansari–Iburaja.
Pemantauan dilakukan terhadap wilayah terisolasi, rumah warga yang terancam rusak, debit sungai, jembatan limpas, dan kondisi tanggul untuk mengantisipasi bencana susulan. Bantuan logistik darurat turut disiapkan bagi warga terdampak.
Di Kabupaten Malang, banjir melanda empat kecamatan pada Senin, 2 November 2026, yakni Ampelgading, Bantur, Pagelaran, dan Sumbermanjing Wetan. Lima desa terdampak adalah Tirtomoyo, Lebakharjo, Bantur, Kademangan, dan Klepu.
Bencana tersebut berdampak pada sekitar 43 KK, 43 rumah, dua warung, dan empat akses jalan. Satu unit jembatan juga dilaporkan rusak.
BPBD Kabupaten Malang telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan perangkat desa. Air dilaporkan telah surut dan akses jalan kembali dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Petugas masih membersihkan material banjir. Penanganan lanjutan membutuhkan alat berat dan truk tangki.
Banjir juga terjadi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Hujan berintensitas tinggi pada Kamis, 29 Oktober 2026, sekitar pukul 01.45 WIB menyebabkan debit Sungai Ular meningkat hingga meluap. Luapan air mengakibatkan erosi pada dinding tepian sungai di Desa Bandar Kuala, Kecamatan Galang.
Kejadian tersebut berdampak pada sekitar 11 rumah. Sebanyak 13 KK atau 51 jiwa mengungsi, baik di tenda pengungsian yang didirikan Brigif 7/RR maupun di rumah kerabat.
BPBD Kabupaten Deli Serdang berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa dalam penanganan warga terdampak. Dukungan juga diberikan melalui pendirian tenda pengungsian, dapur umum oleh Korem Pantai Timur, serta pos kesehatan oleh Puskesmas Galang. Hingga Senin, 2 November 2026, kondisi banjir dilaporkan telah surut.
Longsor di Bali, Cuaca Ekstrem Tewaskan Satu Orang
BNPB juga mencatat tanah longsor di kawasan Glamping Pelaga Eco Park, Banjar Bukit Buluk Tihing, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu, 1 November 2026.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu longsoran dan menyebabkan dua orang dinyatakan hilang. BPBD Kabupaten Badung bersama tim SAR gabungan yang melibatkan SAR Denpasar, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Badung, Damkar, Satpol PP, TNI/Polri, pemerintah kecamatan, serta aparat Desa Pelaga melakukan operasi pencarian korban.
Sementara itu, cuaca ekstrem terjadi di Dusun Liren, Desa Kuta Gamber, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, pada Jumat, 30 Oktober 2026, sekitar pukul 19.00 WIB.
Peristiwa tersebut menyebabkan pohon tumbang dan menimpa sebuah rumah warga hingga mengalami kerusakan berat. Satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka.
BPBD Kabupaten Dairi melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa, serta mengevakuasi dan memberikan penanganan kepada korban. Hingga Senin, 2 November 2026, lokasi kejadian masih dalam penanganan pemerintah setempat.
BNPB Minta Daerah Perkuat Kesiapsiagaan
Menghadapi potensi peningkatan bencana hidrometeorologi, BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan prakiraan BMKG per 2 November 2026, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November 2026.
Masyarakat diminta mewaspadai hujan lebat disertai petir, angin kencang atau puting beliung, banjir, dan tanah longsor. BNPB juga mengimbau warga memantau prakiraan cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
Upaya antisipasi di lingkungan tempat tinggal dapat dilakukan dengan membersihkan saluran air, selokan, dan talang rumah agar tidak tersumbat. Warga juga diminta memangkas dahan atau ranting pohon yang rapuh maupun terlalu lebat, terutama yang berada dekat kabel listrik dan bangunan.
Selain itu, masyarakat perlu memahami jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan darurat untuk tiga hari.
BNPB juga meminta pemerintah daerah menjalankan delapan langkah kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Langkah tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan bencana, memastikan kesiapan personel, peralatan, dan logistik, serta mengoptimalkan Dana Siap Pakai untuk penanganan darurat sesuai ketentuan.
Pemerintah daerah juga diminta memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan sosialisasi evakuasi mandiri dengan memperhatikan kelompok rentan, serta melakukan normalisasi sungai dan pembersihan fasilitas pengendali banjir.
BNPB menekankan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dan keterlibatan masyarakat untuk mengurangi risiko serta dampak bencana selama musim hujan.
Editor: Redaksi Interkini.co




