
INTERKINI.CO – Masih ada desa-desa di Kabupaten Sigi yang hidup dalam kesunyian digital. Di era ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, sebagian warga Sigi masih harus berjalan ke puncak bukit atau menunggu sinyal “datang” hanya untuk sekadar mengirim kabar keluarga. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi sudah menyentuh aspek dasar: pendidikan, pelayanan publik, keamanan, bahkan kesempatan ekonomi.
Oleh karena itu, langkah Pemerintah Kabupaten Sigi menindaklanjuti Program Berani Berdering layak diapresiasi. Program ini bukan hanya proyek pembangunan jaringan internet; ia adalah ikhtiar memutus ketimpangan akses digital yang selama bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat pedesaan. Dengan pendampingan teknis dan alokasi anggaran dari Dana Desa, kabar baik akhirnya datang untuk 15 desa yang masuk dalam daftar prioritas tahun 2026.
Namun apresiasi saja tidak cukup. Program ini menuntut tiga hal: ketepatan sasaran, transparansi anggaran, dan percepatan realisasi. Setiap rupiah yang dari Dana Desa harus dipertanggungjawabkan dengan baik, sebab pembangunan jaringan internet bukan sekadar memasang alat, tetapi memastikan ia berfungsi dan memberi manfaat nyata. Pernyataan bahwa seluruh RAB akan diaudit Inspektorat adalah langkah awal yang benar namun pengawasan tak boleh berhenti di atas kertas.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah masih banyaknya desa yang belum menyerahkan dokumen usulan. Ini bukan hanya soal kelengkapan administrasi ini menunjukkan adanya kesenjangan kapasitas di tingkat desa. Pemerintah daerah perlu hadir lebih kuat untuk memastikan proses tidak berjalan tersendat karena persoalan teknis.
Jika benar dijalankan dengan serius, Berani Berdering dapat menjadi program paling strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Sigi. Internet bukan lagi fasilitas tambahan—ia adalah kebutuhan dasar bagi generasi muda dalam belajar, bagi aparat desa dalam pelayanan publik, dan bagi masyarakat dalam mengakses kesempatan ekonomi.
Karena itu, program ini tidak boleh sekadar menjadi proyek tahunan pemerintah. Ia harus menjadi gerakan bersama yang memastikan bahwa tidak ada lagi desa di Sigi yang hidup dalam sunyi, terputus dari dunia digital yang kini menjadi denyut kehidupan modern.
Konektivitas adalah jembatan menuju masa depan. Kini tinggal bagaimana Sigi memastikan jembatan itu benar-benar dibangun dan dapat dilintasi oleh semua warganya tanpa terkecuali.
Penulis: Pimpinan Redaksi
Editor: Tim Redaksi interkini.co




