Sastra Reflektif

Di Pusaran Bundanya – Edisi #1: Renungan untuk Perempuan yang Tak Ingin Lupa

“Aku ingin jadi perempuan yang tidak lupa — bahwa aku pernah kecil, pernah dipangku, pernah dibelai dengan doa.

Namaku Dei. Aku tumbuh di Kampung Nggolo sebuah tempat yang tak selalu ada di peta, tapi selalu pulang dalam dada. Di sanalah aku pertama kali belajar berjalan, tertawa, dan menangis di pangkuan seorang perempuan yang kupanggil Ina.

Beberapa hari lalu aku kembali. Setelah bertahun-tahun menetap di kota, menghidupi ambisi dan tenggelam dalam suara mesin, aku pulang. Bukan karena undangan. Bukan karena ada perayaan. Tapi karena dada ini tiba-tiba seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat seperti ada doa yang memanggil dari jauh, dari masa lalu.

Rumah itu masih ada. Kayunya sudah lapuk, dindingnya beraroma hujan yang lama, dan jendela dapurnya tak bisa lagi terbuka sempurna. Tapi semua itu justru membuatku menangis diam-diam.

‘Karena yang rapuh itu bukan rumahnya saja tapi hatiku, yang lama tak disentuh rasa pulang.’

Di ruang tamu, aku duduk di bangku rotan tua yang dulu sering ditiduri Ina saat menunggu ayah pulang dari sawah.

Mataku tertumbuk pada bantal kecil berwarna hijau pudar, dengan sulaman bunga yang benangnya sudah terurai. Itu bantal yang dulu kupeluk saat sakit demam, saat patah hati pertama, atau saat pura-pura tidur karena tidak ingin sekolah.

Aku pegang bantal itu erat.
Dan di sanalah aku sadar, betapa banyak yang telah kulupakan…

Waktu aku kecil, aku ingin cepat dewasa. Waktu remaja, aku ingin cepat lepas dari kampung. Waktu kuliah, aku ingin jadi perempuan modern punya suara, pengaruh, dan keberanian.

Tapi di semua langkah itu, aku lupa satu hal paling dasar: bahwa sebelum aku jadi siapa pun, aku adalah anak dari seseorang. Seorang perempuan sunyi yang tak pernah menuntut apa pun dariku… selain untuk tidak lupa pulang.

“Nak, jangan lupa jadi perempuan yang tahu arah pulang,” katanya suatu malam, sambil menyisir rambutku dengan jemari yang kasar.

Dulu aku hanya angguk. Sekarang, kata-kata itu seperti pahatan dalam dada.

Aku melihat banyak perempuan hari ini sibuk mengejar versi terbaik dirinya, sibuk membuktikan bahwa ia layak, ia hebat, ia bisa.

Tapi siapa yang mengingatkan kita bahwa menjadi perempuan juga berarti mengingat siapa yang dulu memeluk kita waktu kita merasa kecil dan takut?

Ina tidak pernah bicara soal “pemberdayaan perempuan” atau “healing trauma masa kecil”. Ia tidak tahu istilah-istilah itu. Tapi ia tahu cara memeluk anaknya di malam hujan, tahu cara membungkus cinta dalam sebungkus nasi, dan tahu kapan harus diam tapi tetap hadir.

Dan aku…
Aku hampir lupa itu semua.

Malam itu, di rumah tua Kampung Nggolo, aku menulis kalimat ini di balik pintu lemari tua:

“Aku ingin jadi perempuan yang tidak lupa bahwa aku pernah kecil, pernah dipangku, pernah dibelai dengan doa.”

Karena siapa pun kita hari ini setinggi apa pun jabatan kita, sejauh apa pun kita pergi 
kita semua pernah tidur dalam pelukan ibu.

Dan perempuan yang mengingat itu, adalah perempuan yang tidak akan kehilangan arah, bahkan dalam gelap.*

Simak Edisi Selanjutnya setiap Sabtu di interkini.co — Ruang Pulang untuk Perempuan yang Tak Ingin Lupa.

Catatan Penulis:
Cerita ini merupakan bagian dari serial fiksi naratif Di Pusaran Bundanya, ditulis secara orisinal oleh redaksi interkini.co.
Tokoh, tempat, dan alur adalah rekaan semata. Jika ada kemiripan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk pada individu atau peristiwa nyata.

Hak cipta dilindungi. Dilarang menggandakan, menerbitkan ulang, atau memodifikasi isi tanpa izin tertulis dari redaksi interkini.co.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.