Perempuan Pengusaha dan Kerja yang Tak Terlihat
INTERKINI.CO – Di balik kisah perempuan pengusaha yang kerap dirayakan sebagai simbol kemandirian dan keberhasilan, ada jenis kerja lain yang jarang masuk perhitungan. Kerja itu tidak tercatat dalam laporan keuangan, tidak muncul di pitch deck, dan tidak dihitung sebagai jam kerja resmi. Namun justru kerja inilah yang memungkinkan banyak bisnis perempuan tetap berjalan: kerja yang tak terlihat.
Kerja domestik, kerja emosional, dan kerja pengasuhan masih menjadi tanggung jawab yang melekat kuat pada perempuan, termasuk mereka yang menjalankan usaha sendiri. Berbeda dengan pengusaha laki-laki yang umumnya dapat memisahkan ruang kerja dan ruang personal, perempuan pengusaha sering kali harus menjalani keduanya secara simultan. Mengelola karyawan sambil memastikan rumah tetap berfungsi, mengambil keputusan bisnis sambil mengurus kebutuhan keluarga, atau menyusun strategi pemasaran di sela pekerjaan domestik.
Fenomena ini bukan sekadar soal manajemen waktu. Ia merupakan persoalan struktural yang membentuk pengalaman kewirausahaan perempuan sejak awal.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan merupakan bagian signifikan dari pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia. Namun, sebagian besar dari mereka menjalankan usaha dari rumah, dengan skala terbatas, dan jarang berkembang menjadi usaha menengah atau besar. Salah satu faktor yang kerap luput dibahas adalah beban kerja tak berbayar yang terus mereka tanggung, bahkan ketika peran mereka sebagai pengusaha semakin kompleks.
Kerja domestik dan pengasuhan sering dianggap sebagai urusan personal, bukan bagian dari ekosistem ekonomi. Padahal, kerja inilah yang menyerap energi, waktu, dan kapasitas mental perempuan. Dalam konteks kewirausahaan, beban tersebut memengaruhi keputusan bisnis: memilih usaha yang fleksibel alih-alih ekspansif, menunda pengembangan karena keterbatasan waktu, atau mempertimbangkan ulang peluang pendanaan karena konsekuensinya terhadap kehidupan rumah tangga.
Di sinilah kerja yang tak terlihat menjadi variabel penting yang jarang diakui dalam narasi kewirausahaan.
Banyak perempuan pengusaha tidak hanya berperan sebagai pemilik usaha, tetapi juga sebagai penyangga emosional bagi karyawan, keluarga, dan komunitas sekitarnya. Mereka mendengarkan keluhan, menenangkan konflik, dan menjaga relasi sosial agar tetap berfungsi. Kerja emosional semacam ini kerap dianggap sebagai sifat alami perempuan, bukan sebagai keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.
Padahal, kemampuan mengelola emosi, membangun empati, dan menjaga stabilitas relasi merupakan modal penting dalam keberlangsungan usaha, terutama di sektor-sektor yang banyak digerakkan perempuan seperti kuliner, jasa, pendidikan, dan industri kreatif. Namun karena tidak terukur secara finansial, kerja ini sering luput dari perhitungan produktivitas.
Akibatnya, sebagian perempuan pengusaha kerap dinilai kurang agresif atau tidak cukup ambisius dibandingkan rekan laki-lakinya. Penilaian semacam ini muncul tanpa mempertimbangkan konteks beban kerja yang mereka pikul. Ketika seorang perempuan memilih untuk tidak memperbesar skala usaha, keputusan tersebut sering dibaca sebagai keterbatasan personal, bukan sebagai strategi rasional untuk menjaga keseimbangan hidup dan keberlanjutan usaha.
Dalam banyak praktik ekosistem pendanaan, kerja yang tak terlihat ini kerap tidak menjadi pertimbangan utama. Skema pembiayaan lebih menekankan pertumbuhan, margin, dan potensi ekspansi, tanpa selalu memperhitungkan konteks sosial yang memengaruhi kapasitas perempuan untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Kondisi ini membuat sebagian skema pendanaan secara tidak langsung lebih mudah diakses oleh pengusaha yang tidak dibebani kerja perawatan.
Narasi sukses kewirausahaan yang dominan juga masih bertumpu pada pola kerja tanpa henti, pengambilan risiko besar, dan pengorbanan aspek personal demi pertumbuhan bisnis. Narasi ini cenderung mengabaikan kerja perawatan dan relasi sosial yang justru menopang produktivitas ekonomi.
Sebagian perempuan pengusaha merespons kondisi ini dengan mengembangkan model bisnis alternatif. Mereka memilih pertumbuhan yang lebih bertahap, membangun usaha berbasis komunitas, atau mengintegrasikan nilai keberlanjutan dan kesejahteraan ke dalam praktik bisnis. Pendekatan ini kerap dianggap kurang kompetitif dalam kerangka ekonomi arus utama, meskipun dalam banyak kasus menunjukkan daya tahan yang kuat.
Mengakui kerja yang tak terlihat bukan berarti mengromantisasi beban ganda perempuan. Pengakuan ini penting untuk mendorong kebijakan dan praktik ekonomi yang lebih inklusif. Dukungan terhadap perempuan pengusaha tidak cukup berhenti pada pelatihan bisnis atau akses modal, tetapi juga perlu menyentuh penyediaan layanan pengasuhan yang terjangkau, pembagian kerja domestik yang lebih setara, serta pengakuan terhadap kerja emosional sebagai bagian dari produktivitas.
Tanpa langkah-langkah tersebut, pengembangan kewirausahaan perempuan berisiko terus berlangsung di atas fondasi yang tidak sepenuhnya setara. Kerja yang tak terlihat mungkin tidak tercantum dalam laporan keuangan, tetapi dampaknya nyata dalam menentukan arah dan keberlanjutan usaha. Selama kerja ini belum diakui secara memadai, ketimpangan dalam kewirausahaan akan terus diproduksi, meski sering kali tidak disadari.




