BerandaKisah & InspirasiLintas SultengPerempuanSigi Raya

Air Mata, Doa Ibu, dan Perjuangan Irma Haflianty di Politik Sigi

Dulu dianggap manja dan tak kuat mental, kini Irma Haflianty Yangka membuktikan diri lewat jalan terjal politik Sigi, membawa suara desa ke kursi DPRD

INTERKINI.CO, SIGI – Jalan berbatu, jurang terjal, dan hutan basah adalah sahabat perjalanan di pelosok Kabupaten Sigi. Bagi sebagian orang, itu adalah medan berat yang melelahkan. Tetapi bagi Irma Haflianty Yangka, S.T., setiap langkah di jalan itu adalah pengingat: di ujung sana ada suara rakyat kecil yang harus diperjuangkan.

Kini ia duduk di kursi DPRD Sigi, mewakili Dapil III lewat Partai NasDem. Tapi perjalanan itu bukanlah karpet merah. Ia melaluinya dengan keraguan, cibiran, peluh, bahkan kehilangan. Baginya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan cara untuk melawan ketidakadilan dengan cara yang bermartabat.


Masa Kecil: Dari Timor Leste ke Kulawi

Irma tidak lahir dari keluarga politisi. Masa kecilnya sempat ia habiskan di Timor Leste, sebelum pindah ke Palu pada kelas enam SD. Di Kulawi, ia hidup bersama neneknya, sementara kedua orang tuanya masih di Timor Leste.

Hidup sederhana bersama sang nenek menempanya untuk mandiri. “Saya belajar sejak kecil bahwa tidak ada yang mudah. Tapi justru dari situ saya belajar keteguhan,” kenang Irma.

Ia menempuh SMP di Kulawi, lalu SMA di Palu, sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Tadulako jurusan Teknik Sipil. Perjalanannya tampak biasa saja, hingga pengalaman hidup kemudian membawanya pada jalan politik.


Awal Karier & Panggilan Sosial

Sebelum politik, Irma sempat bekerja di bank, lalu menjadi tenaga honorer di Bappeda Sigi. Empat tahun ia bergabung di program Pamsimas sebagai pendamping pemberdayaan masyarakat di Donggala. Dari situ ia akrab dengan persoalan air bersih, kesehatan, dan kehidupan desa.

Ia juga aktif di Yayasan Sahabat Masjid, yang membantu anak yatim, lansia, dan janda. Di sinilah ia merasakan, bekerja untuk orang lain bukan sekadar rutinitas, tapi panggilan hidup.

Namun, ada satu pengalaman personal yang membekas: ia merasa diremehkan, tak dianggap, dan tak punya kekuatan untuk melawan. “Saya ingin melawan ketidakadilan, tapi dengan cara bermartabat dengan punya posisi dan kekuatan,” ujarnya. Dari situlah politik menjadi jalannya.


Rintangan dari Rumah Sendiri

Keputusan Irma masuk politik justru ditentang keluarganya. Ibunya menganggap Irma tidak cukup kuat mental.

“Mama bilang: kamu tidak akan mampu. Kamu anak manja,” tuturnya dengan senyum getir.

Namun, sang nenek serta keluarga besarnya di Kulawi justru memberi restu penuh. Suaminya pun awalnya hanya mendukung setengah hati. Alih-alih menyerah, keraguan itulah yang membuat Irma semakin bertekad untuk membuktikan bahwa ia bisa.


Kampanye di Medan Terjal

Dapil III adalah wilayah dengan desa-desa yang sulit dijangkau. Pertama kali berkampanye di Kecamatan Pipikoro, Irma harus menempuh perjalanan berjam-jam naik ojek, menembus hutan dan jurang. Hujan turun deras, membasahinya dari ujung kepala hingga kaki.

“Saya paling takut jurang, tapi mau tidak mau kita harus turun. Kalau tidak, bagaimana bisa tahu penderitaan rakyat?” katanya.

Di Desa Onu, Pipikoro, ia menghadiri peresmian rumah ibadah. Medan berat hampir membuatnya ingin mundur. Tapi justru kata-kata ibunya yang dulu meragukan, menjadi bahan bakar semangat.


Air Mata & Doa Ibu

Saat Irma sibuk berkampanye, ibunya pergi berobat ke Makassar dan Malaysia untuk menjalani operasi besar. Ibu dan keluarga merahasiakan kondisinya agar Irma tidak kehilangan fokus. Ia baru tahu setelah ibunya pulih dari operasi besar di luar negeri.

“Saya pikir mama pergi rekreasi. Padahal beliau menjalani operasi. Saat tahu, saya hanya bisa menangis,” ucap Irma dengan mata berkaca-kaca.

Tak lama setelah Irma duduk di DPRD, sang ibu berpulang. Namun, restu dan doa ibunya tetap menjadi penguat di setiap langkahnya. Bukan hanya doa, tapi juga pesan yang hingga kini menjadi pegangan hidup Irma dalam berpolitik.

“Mama selalu berpesan: kalau turun ke dapil, jangan pernah membanding-bandingkan satu dengan yang lain. Kita dan mereka itu sama. Jangan pernah meninggikan dirimu, jangan merasa lebih tinggi dari orang lain. Selalulah berada di bawah, dan berikan manfaat bagi orang lain,” tutur Irma, kali ini sambil menangis.

Pesan sederhana itu menjadi kompas moralnya. Politik, baginya, bukan tempat untuk meninggikan diri, melainkan ruang untuk merendahkan hati dan melayani.


Suara dari Desa di Gedung DPRD

Sejak terpilih, Irma membawa aspirasi desa ke meja kebijakan. Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur menjadi fokus utamanya.

Ia mendorong agar tenaga pendidik diprioritaskan dari putra-putri daerah, sehingga mereka dapat lebih nyaman dan berkomitmen dalam mengabdi. Ia juga memberi perhatian pada isu stunting dan kesehatan ibu hamil.

“Saya tidak ingin hanya memberi janji. Saya turun ke lapangan, saya dengarkan, lalu saya perjuangkan,” tegasnya.


Menjadi Inspirasi Perempuan

Irma percaya kehadiran perempuan di politik membuat keputusan lebih peka terhadap rakyat. Ia ingin perempuan muda tidak takut masuk ke dunia politik.

“Banyak yang anggap perempuan itu lemah. Tapi justru di politik, saya merasa perempuan adalah kekuatan. Politik membuat kita tangguh, berani, dan bermanfaat,” pesannya.


Dari Kulawi untuk Sigi

Kisah Irma Haflianty Yangka adalah cerita tentang keberanian melawan keraguan, keterbatasan, bahkan kehilangan. Dari gadis kecil di Kulawi, karyawan bank, tenaga honorer, hingga kini wakil rakyat, ia menempuh jalan yang tidak mulus.

Jalan berliku, cibiran, bahkan air mata ia lalui. Tetapi dari setiap luka, lahir tekad untuk berdiri lebih tegak. Kini, ia menjadi suara bagi masyarakat terpencil di Dapil III, membuktikan bahwa politik bisa dijalani dengan hati.

“Kalau ada yang meremehkan saya, justru itu yang membuat saya semakin kuat,” tutupnya dengan senyum penuh keyakinan.

Penulis: Muhammad Gasalele
Editor: Tim Redaksi Interkini.co

Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.