SIGI — Ketua Utama Alkhairaat Habib Sayid Alwi bin Saggaf Aljufri mengingatkan keluarga besar Alkhairaat agar tidak menjadi penghalang perjuangan organisasi. Pesan itu disampaikan dengan mengutip kembali pesan pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, kepada siapa pun yang menghambat kerja para pejuang, guru, dan pengurus Alkhairaat.
Pernyataan itu disampaikan Habib Alwi dalam Haul Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri di Sigi, Sabtu, 8 Agustus 2026. Menurut dia, haul bukan sekadar majelis mengenang orang yang telah wafat, melainkan ruang memperbarui kesetiaan, janji, dan doa untuk meneruskan perjuangan yang ditinggalkan.
“Kita hari ini hadir di majelis haul yang tidak seperti majelis biasa. Ini adalah Majelis Al-Wafa, kesetiaan; Majelis Al-Ahd, janji; dan Majelis Ad-Dua, doa,” kata Habib Alwi.
Ia mengatakan perjuangan Alkhairaat merupakan bagian dari perjuangan membangun Indonesia. Negara memiliki tanggung jawab, tetapi masyarakat juga harus mengambil bagian dalam membesarkan Alkhairaat, sebagaimana para pendahulu membangun negeri dengan tenaga, pikiran, pengorbanan, dan air mata.
Menurut Habib Alwi, kesetiaan kepada para pendahulu diwujudkan dengan mengamalkan ilmu yang diwariskan, menjaga perjuangan Alkhairaat dan dakwah, serta mendoakan mereka yang telah wafat.
“Setia pada ilmu beliau, artinya kita amalkan yang beliau ajarkan. Itu wujud cinta nyata. Kedua, setia pada perjuangan beliau, pada Alkhairaat dan majelis taklim. Dakwah perlu kita jaga jangan sampai padam.”
Karena itu, ia meminta warga Alkhairaat yang belum mampu membantu agar tidak justru menghambat kerja organisasi.
“Kalau belum bisa membantu Alkhairaat, kita jangan sekali-kali menjadi penghalang dan mengganggu Alkhairaat untuk maju.”
Habib Alwi kemudian mengutip pesan Guru Tua tentang pihak yang menghalangi perjuangan para guru dan pengurus Alkhairaat di daerah.
“Barang siapa yang mengganggu, menghalangi jalan kami, menghalangi jalan-jalan pejuang, guru-guru Alkhairaat di lapangan, pengurus-pengurus Alkhairaat di daerah untuk mengembangkan Alkhairaat, maka busur senjata di antara dua keningnya.”
Pesan itu disampaikan dalam konteks seruan agar seluruh struktur organisasi mendukung kerja pengurus dan tidak melemahkan perjuangan Alkhairaat.
Habib Alwi meminta pengurus di tingkat ranting menjaga aset organisasi dan mengelolanya secara produktif untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan guru-guru di daerah. Pengurus kecamatan dan cabang diminta mendata madrasah yang membutuhkan perhatian, termasuk kondisi fisik bangunan, lalu membantu mencari jalan keluarnya.
Sementara pengurus tingkat kabupaten dan kota diminta memberi dukungan terhadap kerja organisasi.
“Bantu walau dengan sedikit perhatian dan doa, bukan dengan fitnahan,” ujarnya.
Habib Alwi menyebut Haul Habib Saggaf juga sebagai Majelis Al-Ahd, tempat keluarga besar Alkhairaat memperbarui janji untuk mengikuti dan melanjutkan ajaran serta perjuangan para pendahulu.
Habib Saggaf, kata dia, semasa hidup mengabdikan waktunya untuk umat, Alkhairaat, dan dakwah. Karena itu, kehadiran jamaah dalam haul seharusnya tidak berhenti pada kesedihan, melainkan menjadi dorongan untuk meneruskan perjuangan tersebut.
“Kita berjanji kepada Allah SWT di majelis haul ini. Semoga Allah SWT menggerakkan hati kita untuk melanjutkan perjuangan beliau.”
Haul itu, lanjut Habib Alwi, juga merupakan Majelis Ad-Dua. Doa menjadi bagian dari kesetiaan kepada orang-orang saleh yang telah meninggalkan perjuangan.
“Kini giliran kita. Maka kita meminta husnul khatimah dan berdoa agar perjuangan beliau dilanjutkan, agar Alkhairaat makin berkah.”
Di akhir tausiah, Habib Alwi mengajak keluarga besar Alkhairaat menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Menjadi Abnaul Khairaat, kata dia, tidak cukup hanya sebagai identitas, tetapi harus dibuktikan melalui manfaat bagi organisasi.
“Janganlah bangga hanya karena kita dilahirkan sebagai Abnaul Khairaat. Banggalah apabila Alkhairaat merasakan manfaat dari kehadiran kita.”




