PendidikanSastra Reflektif

Di Antara Kursi yang Terisi

Sebuah refleksi tentang duduk sendiri, tatapan orang lain, dan makna kebebasan batin

Penulis: Hafshah

INTERKINI.CO – Sore itu aku duduk sendirian di sebuah ruang yang penuh manusia. Kursi-kursi tersusun rapat, nyaris tak memberi celah bagi jarak. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki bercampur seperti riak kecil di permukaan waktu. Ada yang datang berdua, ada yang bergerombol, ada pula yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Aku tidak menunggu siapa pun. Tidak pula sedang menuju ke mana-mana. Aku hanya ingin berhenti, sejenak, dan membiarkan diriku ada.

Pada awalnya, kesendirian itu terasa ringan. Aku menjadi penonton dari lalu-lalang manusia, pendengar dari kalimat-kalimat yang tak pernah benar-benar utuh. Hingga kemudian, aku menyadari sesuatu yang halus: tatapan-tatapan singkat yang singgah lalu pergi. Tak cukup lama untuk disebut perhatian, namun cukup untuk membuatku sadar di tengah keramaian ini, aku berdiri sendirian.

Dari sanalah kegelisahan mulai menemukan bentuknya. Bukan kesepian, melainkan kesadaran akan diri sendiri yang tiba-tiba terasa begitu terang. Aku bertanya dalam diam: sejak kapan duduk sendirian menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan? Seolah kebersamaan adalah keharusan, dan kesendirian harus selalu disertai alasan yang bisa diterima.

Aku pun melakukan apa yang sering dilakukan banyak orang. Ponsel kubuka, layar kususuri dengan jari-jari yang pura-pura sibuk. Sesekali aku menoleh, seakan sedang menunggu seseorang yang terlambat datang. Bukan karena aku ingin ditemani, tetapi karena aku ingin terlihat wajar. Ada dorongan samar untuk menyamarkan kesendirian seakan duduk sendiri adalah bahasa yang terlalu jujur untuk ditampilkan di ruang publik.

Padahal, kesendirian tidak selalu lahir dari kehilangan. Ia bisa menjadi pilihan, bahkan kebutuhan. Namun di tengah keramaian, kesendirian sering dibaca sebagai kekurangan: ditinggal, tersisih, atau tidak diinginkan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa ramai adalah aman, dan sunyi harus segera dihindari. Barangkali karena itulah kita lebih takut pada penilaian, daripada pada kesendirian itu sendiri.

Seiring waktu, pemahaman sederhana datang menghampiri. Orang-orang sebenarnya terlalu sibuk dengan hidupnya masing-masing. Tatapan yang singgah itu hanyalah refleks, bukan penghakiman. Dunia tidak sedang mengamatiku. Akulah yang terlalu lama menaruh diriku di bawah sorot lampu yang tak pernah benar-benar dinyalakan.

Kesadaran itu mengendap perlahan, seperti debu yang akhirnya jatuh ke lantai. Aku menurunkan ponsel, membiarkan tanganku diam. Aku duduk tanpa peran, tanpa cerita tambahan, tanpa upaya menjelaskan apa pun. Untuk pertama kalinya sore itu, aku benar-benar hadir tidak sedang menunggu, tidak sedang melarikan diri.

Di titik itu aku belajar sesuatu yang sederhana, namun kerap luput: kesendirian bukan lawan dari kebersamaan, melainkan ruang untuk mengenal diri sendiri dengan lebih jujur. Rasa ganjil yang dulu kurasakan bukan berasal dari duduk sendirian, tetapi dari ketakutanku akan bagaimana kesendirian itu tampak di mata orang lain.

Ketika ketakutan itu perlahan kulepaskan, yang tersisa bukan sunyi yang menakutkan, melainkan kebebasan. Kebebasan untuk duduk di tengah ramai tanpa harus menjelaskan apa pun. Kebebasan untuk bersama diri sendiri dan tetap merasa cukup.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.