Sumayyah binti Khayyat dan Keberanian yang Lahir dari Keteguhan
INTERKINI.CO — Dalam sejarah Islam, keberanian tidak selalu lahir dari pedang atau mimbar. Kadang ia tumbuh dari tubuh yang rapuh, dari suara yang nyaris tak didengar, dan dari iman yang diuji oleh kekuasaan yang sewenang-wenang. Di antara nama-nama itu, Sumayyah binti Khayyat berdiri sebagai simbol keteguhan perempuan pertama yang wafat sebagai syahid dalam Islam.
Sumayyah bukan berasal dari kalangan bangsawan Quraisy. Ia adalah perempuan lanjut usia, hidup sederhana, dan berada di lapisan sosial paling rentan pada masanya. Bersama suaminya, Yasir bin Amir, dan putranya, Ammar bin Yasir, ia memeluk Islam pada fase awal dakwah Nabi Muhammad SAW saat keimanan masih harus dibayar mahal dengan penderitaan.
Keputusan Sumayyah untuk memeluk Islam bukanlah langkah aman. Ia tahu risikonya. Pada masa itu, keimanan adalah pembangkangan terhadap tatanan sosial, ekonomi, dan politik Mekah. Dan pembangkangan, bagi penguasa, harus dihukum.
Disiksa, Namun Tidak Tunduk
Keluarga Yasir menjadi sasaran penyiksaan terbuka. Mereka dijemur di bawah terik matahari, dirantai, dan dipaksa meninggalkan keyakinannya. Dalam situasi itu, Sumayyah tidak melawan dengan amarah. Ia melawan dengan keteguhan.
Abu Jahal tokoh yang dikenal keras dan represif menuntut Sumayyah untuk mengingkari imannya. Namun perempuan tua itu menolak. Tidak dengan teriakan, tidak dengan provokasi. Ia menolak dengan diam yang bermakna.
Penolakan itu dibayar mahal. Sumayyah gugur akibat kekerasan, menjadikannya perempuan pertama dalam sejarah Islam yang wafat sebagai syahid. Tubuhnya mungkin tumbang, tetapi keteguhannya melampaui zamannya.
Martir Tanpa Panggung
Sumayyah tidak pernah memimpin pasukan. Ia tidak menulis kitab. Namanya jarang disebut dalam narasi besar kekuasaan. Namun justru dari sanalah kekuatannya berasal. Ia mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu spektakuler, dan iman tidak selalu bersuara lantang.
Dalam salah satu riwayat, Nabi Muhammad SAW memberi penguatan kepada keluarga Yasir: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.” Kalimat itu menjadi pengakuan bahwa penderitaan mereka tidak sia-sia, dan keteguhan Sumayyah memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam.
Relevansi untuk Hari Ini
Kisah Sumayyah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia relevan dalam dunia yang masih menyisakan ketidakadilan terutama bagi perempuan dan kelompok rentan. Ia menunjukkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh status sosial, usia, atau kekuasaan, melainkan oleh keberanian memegang nilai yang diyakini benar.
Di tengah zaman yang kerap menuntut kompromi berlebihan, Sumayyah mengingatkan bahwa ada prinsip yang layak dipertahankan, meski risikonya berat. Ia bukan simbol kekerasan, melainkan simbol keteguhan nurani.
Sumayyah binti Khayyat wafat tanpa podium, tanpa gelar, tanpa sorotan sejarah resmi. Namun justru dari sunyi itulah lahir warisan terbesar: teladan tentang iman, keberanian, dan harga diri seorang perempuan.
Tulisan ini merupakan bagian dari rubrik Hikmah Interkini.co.




