Dari Dolo untuk Nusantara: Cinta yang Tak Pernah Usai untuk Habib Saggaf

INTERKINI.CO, SIGI- Waktu boleh berlalu, namun ada nama-nama yang tak pernah hilang dari ingatan dan doa. Sudah empat tahun sejak kepergian Al-Allamah Al-Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri, namun sosok karismatik ini justru semakin hidup di hati para muridnya.
Bagi mereka, Habib Saggaf bukan sekadar guru, melainkan pembimbing jiwa sosok yang mendidik dengan kasih sayang dan menanamkan ilmu bersamaan dengan cahaya adab dan keteladanan.
Tahun ini, haul keempat almarhum kembali digelar pada Ahad, 13 Juli 2025, di kompleks Pondok Pesantren Alkhairaat Madinatul Ilmi Dolo, tempat beliau dahulu mengabdi dalam dakwah pendidikan. Acara ini menjadi momen spiritual yang mempertemukan kembali para alumni dari berbagai penjuru Nusantara dari Sulawesi hingga Kalimantan, dari Maluku hingga kota-kota besar di Jawa.
“Bukan sekadar mengenang, kami ingin menjaga warisan adab dan cinta dari beliau,” ujar Ismail Yusuf L., alumni 2005 yang kini bertugas di Kementerian Agama Kabupaten Sigi.
Habib Saggaf dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi karena kelembutan cara mendidiknya. Ia membentuk karakter para murid dengan keteladanan, bukan dengan kata-kata keras.
“Beliau tak pernah marah. Tapi satu kalimatnya cukup membuat kami menangis dan merenung,” kenang Ismail.
Majelis-majelis beliau tidak hanya memuat fiqih atau tauhid, melainkan pelajaran bagaimana menjadi manusia yang peka, beradab, dan mencintai dengan ketulusan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, haul keempat ini kembali dimeriahkan oleh inisiatif “Donatur Alumni”, yakni gerakan gotong royong lintas angkatan untuk mendukung pelaksanaan haul. Dana yang terkumpul dipergunakan untuk menyambut para tamu dan keperluan acara haul.
“Ini bukan sekadar donasi. Ini bentuk cinta dan bakti kami. Kami tak ingin hanya mengenang, tapi juga menghidupkan nilai-nilai beliau,” lanjut Ismail.
Dalam tradisi Islam, hubungan guru dan murid bukan sekadar akademik. Ia adalah ikatan ruhani yang dijaga melalui adab dan cinta. Para alumni meyakini, setiap doa dan kontribusi adalah bagian dari amal jariyah sang guru.
“Di setiap majelis, di setiap pengajian, kami menyebut namanya. Karena kami mencintainya,” ucap Ismail lirih.
Nama Habib Saggaf terus hidup dalam hati para murid, dalam ceramah, dan dalam pesantren-pesantren yang mereka kelola. Ia hadir dalam semangat keteladanan.
Habib Saggaf memang telah tiada secara fisik. Tapi semangat dakwah dan pendidikan yang ia wariskan tetap menyala dalam jiwa para murid. Haul bukan hanya peringatan, melainkan bentuk kesetiaan.
“Ya Allah, rahmati guru kami. Lapangkan kuburnya. Jadikan kami murid yang tak hanya mengenang, tetapi juga melanjutkan jejak perjuangannya.”
Penulis : Tim Redaksi Interkini




