Ubaidillah Raih Gelar Magister Ilmu Komunikasi, Bukti Ketekunan Putra Daerah Kabupaten Sigi
INTERKINI.CO, PALU — Prestasi akademik kembali ditorehkan oleh putra daerah Kabupaten Sigi. Ubaidillah, S.Sos., M.I.Kom., resmi menyandang gelar Magister Ilmu Komunikasi setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Kota Palu.
Momen kelulusan tersebut berlangsung dalam suasana penuh syukur di lingkungan kampus, Kamis (8/1/2026). Dengan mengenakan jas almamater biru dan selempang wisuda, Ubaidillah mengabadikan capaian akademiknya sebagai simbol keberhasilan atas proses panjang yang telah dilalui.
Pencapaian ini bukan sekadar keberhasilan personal, tetapi juga mencerminkan komitmen dalam pengembangan kapasitas intelektual dan profesional, khususnya di bidang komunikasi. Gelar Magister Ilmu Komunikasi yang diraih diharapkan dapat memperkuat kontribusinya di ranah akademik, jurnalistik, maupun pengabdian sosial di masyarakat.
Ucapan selamat dan apresiasi mengalir dari keluarga, sahabat, serta rekan sejawat yang turut bangga atas konsistensi dan dedikasi Ubaidillah dalam menempuh pendidikan hingga jenjang pascasarjana.
Lahir di Dolo pada 13 Maret 1998, Ubaidillah menempuh pendidikan Sarjana Sosial pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Datokarama Palu. Ia memulai studi pada 2019 dan berhasil menyelesaikannya pada 2024. Tak berselang lama, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Tadulako dan menuntaskannya pada 2025.
Perjalanan akademik di jenjang pascasarjana, menurut Ubaidillah, tidak lepas dari berbagai tantangan. Persoalan biaya pendidikan, kebutuhan penelitian, hingga keterbatasan waktu menjadi ujian tersendiri di tengah tuntutan akademik yang tinggi.
“Banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu menjadi sangat padat, sementara tuntutan akademik terus berjalan. Di situ saya belajar bahwa ketekunan dan manajemen waktu adalah kunci,” ujarnya.
Selain ketekunan, ia menilai kemampuan beradaptasi dan membangun jejaring relasi sebagai bekal penting setelah menyelesaikan studi. Lingkungan akademik, menurutnya, tidak hanya membentuk kemampuan berpikir kritis, tetapi juga melatih keterbukaan terhadap perubahan dan dinamika sosial.
Pelajaran paling berharga yang ia peroleh adalah kesadaran akan pentingnya belajar sepanjang hayat. Bagi Ubaidillah, pendidikan tidak berhenti pada gelar akademik, melainkan merupakan proses berkelanjutan dalam memahami diri dan realitas sosial.
“Pendidikan adalah kunci, tetapi keberanian untuk bermimpi dan bertindak adalah aksesorisnya. Jangan berhenti. Hari ini atau ke depannya, jika itu memang rezeki dan ditakdirkan untuk kita selesaikan, insyaallah tidak akan lari dari genggaman,” tuturnya.
Kisah Ubaidillah menjadi inspirasi bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, melainkan jembatan menuju peluang baru baik untuk melanjutkan pengabdian, memasuki dunia profesional, maupun mewujudkan cita-cita yang lebih besar. Di tengah tantangan zaman, semangat belajar dan keberanian melangkah tetap menjadi fondasi utama untuk terus berkembang.
(a6)




