LPA Sinue dan Jalan Sunyi Menjadi Pemuda Tangguh
Di tengah banjir informasi, hedonisme digital, dan budaya serba instan, hadirnya organisasi seperti Lembaga Pecinta Alam (LPA) Sinue layak mendapat ruang khusus dalam diskursus publik kita hari ini. Terlebih ketika sebagian besar anak muda mulai kehilangan minat terhadap aktivitas berbasis komunitas yang menuntut kerja kolektif, disiplin, dan idealisme jangka panjang.
Maka, Musyawarah Anggota (MUSANG) ke-III LPA Sinue yang digelar 1–2 Agustus 2025 di Palu bukan sekadar kegiatan rutin pergantian kepengurusan. Ia adalah tanda bahwa masih ada sekelompok anak muda yang bertahan di jalan sunyi: menjadi tangguh tanpa sorotan, membangun desa tanpa gembar-gembor.
Tidak Sekadar Eksis, Tapi Berproses
Salah satu pendiri LPA Sinue, Amwal, menyatakan bahwa tema yang diusung dalam musyawarah ini “Melangkah maju untuk revolusi kepemimpinan yang kreatif dan bertanggung jawab” adalah harapan lahirnya kader-kader yang tak hanya siap memimpin, tapi juga memiliki keberanian bertanggung jawab atas tugas sosialnya. Harapan ini bukan utopis, karena kita tahu, proses pembinaan dalam organisasi pecinta alam bukan semata tentang bertahan di alam, tapi bertahan dalam prinsip.
Kita tahu, bertahun-tahun belakangan, banyak organisasi pemuda tumbuh bak jamur setelah hujan namun hanya sedikit yang bertahan setelah matahari terik menyinari realitas. Sebagian menggelar acara demi eksistensi, bukan keberlanjutan. Di sinilah LPA Sinue menampilkan watak yang berbeda: ia tumbuh dari komunitas akar rumput, berdiri atas dasar kegelisahan, dan bekerja dalam senyap.
Mewariskan Mental Tangguh, Bukan Sekadar Jabatan
Musyawarah anggota adalah ruang transisi. Namun di LPA Sinue, transisi itu bukan sekadar serah terima jabatan. Ia adalah ritual kaderisasi yang mengikat antara tanggung jawab personal dengan amanah sosial. Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi, perencanaan, dan regenerasi nilai.
Di era ketika pemuda lebih sibuk mengejar follower daripada follow-up terhadap isu-isu lingkungan dan sosial, keberadaan LPA Sinue mengingatkan bahwa menjadi pemuda itu bukan hanya tentang usia, tapi tentang kesadaran dan keberanian untuk mengabdi.
Organisasi ini bukan sekolah, bukan pula LSM. Tapi ia adalah tempat belajar yang sangat organik. Di dalamnya, pemuda diuji bukan di atas kertas ujian, tapi di tengah hutan, dalam kerja sosial, dan di balik diskusi kecil tentang masa depan desa.
Kritik untuk yang Lain, Refleksi untuk Bersama
Namun, bukan berarti LPA Sinue tidak layak dikritisi. Tantangan besar mereka ke depan adalah membuktikan bahwa kepedulian terhadap alam tidak berhenti di pendakian dan pelestarian, tapi harus masuk dalam ruang advokasi dan pemberdayaan. Organisasi pecinta alam harus bisa membangun jembatan antara idealisme hijau dan realitas sosial: antara pohon dan perut rakyat, antara sungai dan suara warga.
Organisasi sejenis di berbagai daerah harus belajar dari konsistensi LPA Sinue. Bahwa organisasi tidak mesti besar untuk berdampak. Tidak harus viral untuk berguna. Justru organisasi yang tetap bertahan meski dihadapkan dengan minimnya dukungan dan sorotan, adalah organisasi yang benar-benar kuat akar dan batangnya.
Karena itu, jika ada yang perlu ditiru dari LPA Sinue, itu bukan hanya semangatnya, tapi sistem kaderisasinya. Bukan hanya acara formalnya, tapi filosofi pendiriannya. Dan yang paling penting: kesadaran bahwa alam bukan tempat pelarian, tapi medan perjuangan.
Penutup
Di ujung editorial ini, kita semua baik pemuda maupun pembaca dewasa—patut bertanya: Apakah kita masih percaya bahwa pemuda bisa memimpin perubahan?
Jika jawabannya “ya,” maka mari kita dukung organisasi-organisasi seperti LPA Sinue. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka terus belajar dan berjuang, saat yang lain memilih diam atau sibuk membangun citra.
LPA Sinue mungkin kecil di mata dunia digital. Tapi mereka sedang menanam benih besar untuk masa depan desa dan bumi. Dan itulah hal yang layak dihormati.
Oleh Mohamad Gasalele




