LPA Sinue dalam Bayangan Harapan dan Tindakan
Dari Jejak Langkah ke Narasi: Menakar Masa Depan Pecinta Alam di Era Digital
INTERKINI.CO, PALU- Musyawarah anggota Lembaga Pecinta Alam (LPA) Sinue, Kabupaten Donggala, resmi menetapkan Nazril sebagai ketua baru untuk periode mendatang. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 1–2 Agustus 2025, di Sekretariat LPA Sinue, Jalan Penegoro, Kota Palu. Forum ini dihadiri oleh anggota penuh, anggota muda, para pendiri, pembina, serta tamu undangan dari Mapala Muhibbul Bi’ah UIN Datokarama Palu.
Terpilihnya Nazril bukan sekadar proses regenerasi struktural. Di tengah tantangan krisis ekologi dan menyusutnya ruang edukasi lingkungan bagi generasi muda, sosok pemimpin baru ini memikul harapan besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan.
“Ini bukan soal siapa yang memimpin, tapi bagaimana LPA Sinue tetap menjadi rumah untuk belajar, bertindak, dan membela alam secara konsisten dan beretika,” ujar Amwal, pendiri LPA Sinue yang akrab disapa Jamur, sekaligus senior Mapala Muhibbul Bi’ah UIN Datokarama Palu.
LPA Sinue telah menjadi ruang pembelajaran lintas generasi. Namun seperti banyak komunitas sejenis, tantangan stagnasi dan seremoni kosong kerap menghantui. Kepemimpinan baru harus mampu menjaga agar nilai-nilai kepecintaalaman, solidaritas, dan advokasi lingkungan tidak hanya berhenti pada jargon, tetapi tumbuh dalam praktik nyata dari hutan hingga ke ruang publik.
Nazril memikul amanah bukan hanya administratif, tetapi juga ideologis. Ia harus menjadi jembatan antara semangat anggota muda yang berapi-api dengan kebijaksanaan anggota senior. Tugas besarnya: membangun ekosistem organisasi yang adaptif, partisipatif, dan tetap teguh pada prinsip pelestarian alam serta pendidikan komunitas.
Dengan musyawarah lintas generasi, LPA Sinue menunjukkan bahwa regenerasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan akar sejarah. Kini, saatnya menyirami akar itu dengan program nyata, advokasi yang kuat, dan keterlibatan yang bermakna di berbagai lini.
“LPA harus kembali ke desa, ke sungai, ke gunung. Tapi juga ke sekolah, ke forum publik, bahkan ke ruang-ruang kebijakan,” ungkap Ihwan (Kelengkeng), pendiri LPA Sinue sekaligus mantan Ketua Pemikiran Politik Islam UIN Datokarama Palu.
Di tengah krisis iklim dan rendahnya literasi ekologi di tingkat akar rumput, LPA Sinue dituntut tidak hanya eksis di lapangan, tetapi juga di ruang wacana publik. Pemimpin seperti Nazril harus mampu memadukan visi ekologis dengan strategi literasi agar cinta terhadap alam tidak berhenti pada aksi, melainkan membentuk pemahaman kritis dan berkelanjutan.
Salah satu senior Mapala Muhibbul Bi’ah, Muhammad Gasalele, yang turut hadir dalam musyawarah itu, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Nazril. Namun ia mengingatkan bahwa tantangan bagi pecinta alam hari ini tidak hanya terletak di medan terjal atau hutan belantara, tetapi juga di medan narasi dan media.
“Kita butuh jurnalis kepecintaalaman bukan sekadar perekam keindahan, tetapi penulis kenyataan. Yang tak hanya membagikan momen, tapi membongkar ironi, mengkritisi kebijakan, dan menyuarakan yang tak terdengar,” tegas Gasalele.
Menurutnya, ketika dokumentasi petualangan berhenti pada unggahan media sosial, maka yang lahir hanyalah konten bukan kesadaran. LPA Sinue dan komunitas serupa perlu melahirkan kader yang mampu mengubah jejak langkah menjadi narasi, dan narasi menjadi pengaruh. Visual harus tumbuh menjadi tulisan yang menggugah, membuka ruang dialog, dan memberi tekanan kepada kebijakan yang lalai terhadap isu lingkungan.
“LPA Sinue jangan hanya dikenal karena jejaknya di gunung atau hutannya yang diabadikan di media sosial , tetapi juga karena gagasannya yang mampu mengubah cara pandang publik terhadap alam,” tambahnya.
Jika organisasi pecinta alam gagal mengembangkan kapasitas literatif dan kritis ini, maka mereka akan tergilas zaman sebagai komunitas nostalgia. Namun bila mampu melahirkan jurnalis kepecintaalaman yang aktif di lapangan dan cakap di ruang digital, maka LPA Sinue akan menjadi lebih dari sekadar komunitas petualang. Ia akan menjelma menjadi penyambung suara alam dan pelopor gerakan ekologis yang dibutuhkan bumi hari ini.
(a6)




