Artikel TrendingBerandaEditorial

Ketika Tradisi Menjadi Ekonomi: Pelajaran dari Festival Ayam Bambu

INTERKINI.CO — Di tengah kesederhanaan sebuah lapangan di Desa Bola Papu, Kecamatan Kulawi, aroma bambu terbakar menandai lahirnya sesuatu yang lebih besar dari sekadar pesta kuliner. Festival Ayam Bambu yang digelar akhir November 2025 memang tampak sederhana, namun maknanya melampaui tungku dan asap. Ia adalah potret kecil tentang bagaimana tradisi bisa menjadi pijakan ekonomi, sekaligus cermin tentang bagaimana kebijakan daerah sering kali baru menyentuh permukaan.

Festival ini bukan hanya urusan kuliner. Ia menyentuh akar kebudayaan, kebanggaan, dan ekonomi lokal yang saling bertaut. Namun di balik semangat gotong royong masyarakat Kulawi dan dukungan pemerintah daerah, ada pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur:
Apakah kegiatan seperti ini akan berlanjut setelah gemerlap panggung padam? Apakah festival akan tumbuh menjadi gerakan ekonomi rakyat yang berkelanjutan, atau sekadar menjadi rutinitas seremonial yang menguap setiap akhir acara?

Para legislator dari daerah seperti Irma Haflianty Yangka, Alia Idrus, dan Nikolas Birro Allo memang menunjukkan komitmen yang patut diapresiasi. Mereka hadir, bicara, dan memberi dukungan moral serta politik. Namun dukungan itu harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret, bukan berhenti pada wacana tahunan.

Festival Ayam Bambu hanya akan bermakna bila menjadi awal dari ekosistem ekonomi kuliner Sigi yang dikelola secara serius: terencana, berdampak, dan berorientasi jangka panjang.

Pemerintah daerah perlu jujur menilai bahwa banyak inisiatif budaya lokal tumbuh bukan karena kebijakan yang kuat, melainkan karena inisiatif warga yang gigih. Festival Ayam Bambu adalah contoh nyata: ia berhasil bukan karena kemewahan anggaran, tetapi karena kepercayaan dan kerja sama masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa partisipasi publik sering kali lebih efektif daripada program yang bergantung pada birokrasi panjang.

Namun, justru di situlah ujian kejujuran pemerintah. Kita tidak boleh menutupi kenyataan bahwa sebagian kegiatan budaya di daerah sering terjebak dalam pola event-oriented: banyak janji, sedikit kelanjutan. Padahal, yang dibutuhkan masyarakat bukan serangkaian festival tanpa arah, tetapi kebijakan yang mengakar mulai dari pembinaan UMKM kuliner, standarisasi produk lokal, hingga akses pasar dan branding yang berkelanjutan.

Langkah untuk mendaftarkan hak paten Ayam Bambu patut diapresiasi, tetapi ia baru tahap awal. Tanpa ekosistem ekonomi yang menopang, hak paten hanya menjadi simbol tanpa manfaat ekonomi nyata. Kuliner tradisional akan menjadi ikon sesungguhnya bila ia mampu menumbuhkan nilai tambah menciptakan pekerjaan, membuka peluang ekspor, dan memperkuat identitas daerah di tengah kompetisi global.

Dalam konteks ini, peran pemerintah provinsi dan kabupaten seharusnya tidak berhenti di papan panggung, tetapi turun hingga dapur masyarakat. Program pariwisata harus terintegrasi dengan kebijakan pangan lokal, promosi UMKM, dan pendidikan budaya bagi generasi muda.

Festival Ayam Bambu memberi pelajaran penting: bahwa kebijakan publik seharusnya lahir dari empati, bukan sekadar agenda tahunan. Bahwa membangun ekonomi daerah bukan dimulai dari proyek besar, tetapi dari menghormati hal-hal kecil yang lahir dari akar budaya masyarakatnya sendiri.

Kini, saat bara bambu Kulawi mulai mereda, pemerintah daerah dan DPRD punya pilihan: menjaganya agar tetap menyala atau membiarkannya padam seperti banyak inisiatif lokal yang mati muda.

Sejarah akan mencatat, apakah Festival Ayam Bambu hanyalah pesta sesaat, atau titik balik ketika Sigi menemukan jati dirinya: daerah yang belajar membangun ekonomi dengan karakter, bukan sekadar angka anggaran.

Redaksi Interkini.co
Editorial ini merupakan pandangan resmi redaksi Interkini.co.
Tulisan ini tidak mewakili pendapat pribadi penulis atau pihak tertentu, melainkan sikap redaksi terhadap isu publik berdasarkan hasil liputan dan analisis redaksi.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.