Artikel TrendingPendidikanSastra Reflektif

Belajar Mendaki, Belajar Mengenali Diri

Oleh: Hafshah

INTERKINI.CO – Pendakian pertama bukan hanya tentang menaklukkan jalur, melainkan tentang keberanian menghadapi diri sendiri. Dari langkah yang ragu hingga kesadaran akan batas, perjalanan ini menjadi ruang belajar yang sunyi namun bermakna.

Ajakan itu datang tanpa persiapan panjang. Sehari sebelum keberangkatan, aku mengiyakan sesuatu yang selama ini hanya kupandang dari jauh: mendaki. Keputusan spontan itu terasa asing, bahkan bagiku sendiri. Aku bukan tipe yang mudah melangkah tanpa perhitungan, terlebih untuk sesuatu yang belum pernah kualami.

Pendakian ini adalah yang pertama. Aku tidak memiliki pengetahuan teknis, tidak terbiasa dengan jalur menanjak, dan belum sepenuhnya mengenal kemampuan fisikku. Yang kubawa hanyalah niat untuk mencoba serta keyakinan sederhana bahwa setiap orang berhak memberi dirinya kesempatan belajar. Namun sejak awal, kegugupan sulit dihindari, terlebih ketika mengetahui bahwa sebagian besar rekan perjalanan adalah orang-orang yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Ada rasa takut menjadi beban. Takut tertinggal. Takut gagal sebelum sampai. Kekhawatiran itu diam-diam menggerogoti langkah, seolah lebih berat daripada ransel yang kubawa. Namun perlahan, kecemasan itu menemukan penawarnya. Orang-orang yang bersamaku hadir dengan sikap terbuka dan saling menguatkan. Percakapan sederhana sebelum perjalanan dimulai menjadi ruang aman tempat aku menyadari bahwa setiap orang membawa ketakutannya masing-masing, meski tak selalu diucapkan.

Tujuan kami adalah kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Wera, sebuah air terjun yang berada di jalur dengan ketinggian kurang lebih 600 meter di atas permukaan laut, terletak di lereng Gunung Watusidae, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Pada awal perjalanan, langkah terasa ringan. Namun seiring waktu, jalur menanjak dan licin mulai menguji kesabaran. Napas semakin pendek, kaki melemah setiap kali berhenti. Di titik tertentu, tubuh dan pikiran seakan bernegosiasi: apakah akan terus melangkah atau menyerah pada lelah.

Di sanalah aku mulai memahami bahwa mendaki bukan tentang menaklukkan jalur, melainkan tentang berdamai dengan diri sendiri. Aku memperlambat langkah, mengatur napas, dan menerima bahwa berhenti sejenak bukanlah kegagalan. Kesadaran itu perlahan mengubah cara pandangku. Perjalanan tidak lagi tentang seberapa cepat sampai, tetapi tentang seberapa jujur aku mendengarkan tubuh dan pikiranku sendiri.

Pada titik inilah aku menyadari bahwa banyak kegagalan dalam hidup bukan terjadi karena seseorang benar-benar tidak mampu, melainkan karena ia terlalu keras memaksa dirinya berjalan dengan ritme orang lain. Mendaki mengajarkanku bahwa setiap langkah memiliki waktunya sendiri, dan setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Ketika seseorang berani mengakui batasnya, di situlah ia justru sedang belajar bertanggung jawab atas dirinya. Pelan bukan berarti lemah; berhenti bukan berarti kalah. Kesadaran ini terasa sederhana, namun jarang benar-benar kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika air terjun akhirnya tampak di hadapan kami, rasa lelah menemukan maknanya. Tidak ada sorak berlebihan, hanya napas panjang yang terlepas dan rasa syukur yang diam-diam tumbuh. Di hadapan alam yang terbentang, aku memahami bahwa keberhasilan sering kali hadir dalam bentuk yang tenang: keberanian untuk bertahan dan menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Perjalanan turun terasa berbeda. Langkah lebih ringan, pikiran lebih lapang. Aku bisa menikmati alam tanpa terburu-buru, seolah perjalanan ini mengajarkan bahwa pulang pun merupakan bagian dari proses belajar. Setibanya di bawah, pendamping perjalanan, menyampaikan nasihat singkat namun bermakna. Ia menekankan pentingnya niat, kesiapan fisik dan mental, serta kemampuan mengambil pelajaran dari setiap perjalanan yang ditempuh bukan semata tentang tujuan, tetapi tentang apa yang dipahami setelahnya.

Pendakian itu berakhir tanpa euforia. Tidak ada kisah heroik, tidak pula glorifikasi pencapaian. Yang tersisa adalah rasa syukur atas proses, kebersamaan, dan kesempatan untuk mengenali diri sendiri dengan lebih jujur.

Dari perjalanan singkat ini, aku belajar bahwa mendaki tidak selalu tentang menaklukkan alam. Terkadang, ia menjadi cara untuk menata ulang cara kita memandang diri sendiri tentang batas, keberanian, dan kesediaan untuk tetap melangkah meski rasa ragu belum sepenuhnya hilang. Pengalaman itu mungkin singkat, tetapi pelajarannya tinggal lebih lama.


Catatan Redaksi

Rubrik Sastra Refleksi menghadirkan tulisan-tulisan yang mengajak pembaca berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan memaknai pengalaman sehari-hari sebagai proses pembelajaran. Melalui esai ini, penulis merefleksikan pengalaman pendakian pertamanya bukan sebagai pencapaian fisik semata, melainkan sebagai ruang perjumpaan dengan diri sendiri tentang batas, keberanian, dan kesadaran untuk berjalan sesuai kemampuan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak selalu hadir di ruang kelas, tetapi juga di setiap perjalanan hidup yang dijalani dengan kesadaran.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.