BerandaNasional

Bahaya FOMO: Demi Tren, Rela Utang dan Korbankan Diri

Oleh: Moh Iqbal NB /Pengamat Medsos

Pernahkah Anda merasa takut ketinggalan tren? Merasa harus ikut-ikutan gaya hidup viral di media sosial, meski secara finansial belum mampu? Itulah yang disebut dengan Fear of Missing Out atau FOMO fenomena psikologis yang kini menjangkiti banyak pengguna media sosial.

Dulu, rasa ingin tahu terhadap hal baru hanya sekadar wajar. Kini, di era digital, FOMO berubah menjadi semacam dorongan obsesif. Masyarakat berlomba-lomba mengunggah konten aktivitas, gaya hidup, atau pengalaman demi eksistensi dan pengakuan sosial.

Fenomena ini semakin nyata ketika banyak orang rela mengeluarkan uang lebih, bahkan sampai berutang ke pinjol, keluarga, atau menjual barang pribadi demi memenuhi tren viral. Tak jarang, semua itu dilakukan demi sebuah unggahan: ingin terlihat mampu, tampil menarik, dan tidak “ketinggalan zaman”.

Contohnya sederhana. Jogging kini kembali tren. Kegiatan ini sehat, tentu saja. Tapi tidak sedikit yang melakukannya bukan karena peduli kesehatan, melainkan demi tampilan outfit yang ‘instagramable’. Sepatu harus bermerek, pakaian harus senada, bahkan kacamata hingga headset pun dipilih agar kontennya bisa bersaing di lini masa.

Tak hanya itu, banyak yang tergoda tren nonton film, nongkrong di warkop hits, hingga makan di tempat viral hanya demi bisa ‘check-in’ di media sosial. Bahkan, ada yang izin kerja dengan alasan palsu hanya demi ikut tren ini.

Lebih jauh FOMO juga mendorong sebagian orang membuka hal-hal yang seharusnya bersifat privat ke ruang publik.

Misalnya, tren foto “S-Line” yang belakangan ramai, menampilkan garis merah sebagai simbol jumlah pasangan seksual. Tak sedikit yang mengikutinya, seakan tak peduli dampak jangka panjang terhadap privasi dan martabat diri.

Di kalangan pendaki, muncul pula tren ‘tektok’, yaitu mendaki gunung tanpa bermalam hanya demi mengejar foto puncak dalam waktu singkat. Tanpa persiapan fisik dan logistik memadai, tren ini justru membahayakan nyawa dan meninggalkan tumpukan sampah di jalur pendakian.

Saya tidak menyalahkan orang-orang yang mengikuti tren. Kadang, kita semua butuh hiburan. Tapi, mari kita tetap rasional. Jika finansial belum cukup, jika fisik belum siap, atau jika harga diri jadi taruhannya, haruskah kita memaksakan diri ikut-ikutan?

FOMO adalah ilusi pengakuan yang bisa merusak diri secara perlahan. Kita tak perlu tampil ‘sempurna’ di media sosial. Cukup tampil nyata dan jujur dengan diri sendiri..

 

 

“Tulisan ini adalah opini pribadi penulis, tidak mewakili pandangan redaksi.”

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button
error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.