Penguatan Moderasi Beragama di Tarakan Perkuat Peran Guru

Tarakan — Sebanyak 120 guru agama dari berbagai agama se-Kota Tarakan mengikuti kegiatan Penguatan Moderasi Beragama bagi Guru Agama se-Kalimantan Utara yang digelar di Gedung Serba Guna Walikota Tarakan, Sabtu (16/5/2026) mulai pukul 08.30 WITA.
Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara bersama Kementerian Agama Kota Tarakan itu mengusung tema “Peran Guru Agama dalam Menanamkan Nilai Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman.”
Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten dan kota se-Kalimantan Utara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara, serta jajaran staf Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara.
Hadir sebagai pemateri sekaligus narasumber dialog, Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Gugun Gumilar, yang memberikan penguatan terkait pentingnya moderasi beragama dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah yang majemuk.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, H. Muhammad Saleh, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran strategis guru agama untuk membangun karakter generasi bangsa.
“Kegiatan perdana ini saya tidak banyak memberikan sambutan. Kita beri waktu seluas-luasnya kepada pemateri untuk memberikan penguatan dan pencerahan kepada guru-guru kita dari berbagai agama di Provinsi Kalimantan Utara,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan para pemimpin bangsa dan tokoh agama tidak terlepas dari kontribusi para guru dalam dunia pendidikan.
“Tidak mungkin ada camat, tidak mungkin ada kepala kantor wilayah, tidak mungkin ada staf khusus, tidak mungkin ada gubernur, kepala Kemenag dan semuanya tanpa melalui tangan-tangan halus dari para guru kita,” katanya.
Ia menegaskan, tugas guru tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan kepribadian anak didik.
“Kalau tugas guru hanya dimaknai mentransfer ilmu pengetahuan, maka semua orang bisa melakukan hal itu. Tetapi guru yang harus kita maknai secara luas adalah bagaimana di tangan-tangan halus para guru kita mampu meletakkan dan membentuk watak, karakter, etika, dan kepribadian anak-anak didik kita,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga aktif berdiskusi mengenai tantangan pendidikan keagamaan di era modern serta strategi menanamkan nilai toleransi dan persatuan di lingkungan sekolah.
Nilai moderasi beragama dinilai penting ditanamkan sejak dini agar peserta didik mampu tumbuh menjadi generasi yang toleran, menghargai perbedaan, dan hidup harmonis di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama di Kalimantan Utara.
Melalui kegiatan ini, para guru agama dari berbagai agama diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan umat beragama sekaligus memperkuat persatuan bangsa melalui dunia pendidikan.
Penulis: SS/IN
Editor: Redaksi Interkini.co






