Menempuh 18 Jam Perjalanan, Rombongan Gorontalo Meniti Rindu Menuju Haul Guru Tua
INTERKINI.CO, PALU — Perjalanan menuju Haul Guru Tua ke-58 bukan sekadar perpindahan jarak. Bagi sebagian jemaah, ia adalah perjalanan batin panjang, melelahkan, namun sarat makna.
Dari Kota Gorontalo, sebanyak 35 orang jemaah memulai perjalanan darat menuju Palu pada Ahad, 29 Maret 2026, pukul 07.00 WITA. Dengan tiga armada satu minibus dan dua mobil pribadi rombongan ini menempuh perjalanan selama kurang lebih 18 jam, sebelum akhirnya tiba pada Senin siang.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Zulfikar Abdjul, S.H, yang menjadi bagian dari rombongan Alkhairaat Kota Gorontalo.
Menyambung Jejak Perjuangan
Bagi rombongan ini, kehadiran dalam haul bukan hanya untuk meramaikan barisan. Lebih dari itu, ada semangat untuk menyambung dan meniti kembali jejak perjuangan pendiri Alkhairaat, Guru Tua.
“Tujuan kami adalah menyemarakkan haul sekaligus meneladani semangat juang Guru Tua,” ujar Zulfikar saat dihubungi.
Haul, bagi mereka, menjadi momentum untuk kembali menguatkan komitmen dalam melanjutkan dakwah dan pendidikan di daerah asal.
Penguatan Batin dari Perjalanan Panjang
Makna haul dirasakan lebih dalam oleh para peserta road trip ini. Perjalanan jauh justru menjadi ruang perenungan tentang apa yang telah diwariskan dan apa yang harus diteruskan.
“Haul ini adalah penguatan batin untuk terus melanjutkan perjuangan pendidikan dan dakwah di Gorontalo,” katanya.
Persiapan perjalanan pun tidak sederhana. Selain memastikan kesiapan kendaraan dan logistik, rombongan juga mempersiapkan kondisi fisik, mental, hingga administrasi perjalanan.
Ziarah Hati di Setiap Kilometer
Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Bagi rombongan ini, setiap kilometer yang ditempuh bukan sekadar lintasan jalan, melainkan ziarah hati menapaki jejak pengabdian seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu dan umat.
“Haul ini bukan sekadar angka di kalender. Ini adalah panggilan rindu untuk kembali pada keteladanan,” ungkapnya.
Menjaga Pelita yang Ditinggalkan
Di tengah ribuan jemaah yang akan berkumpul di Palu, rombongan dari Gorontalo ini membawa satu harapan sederhana: agar semangat perjuangan itu tetap hidup.
Bahwa kehadiran di haul bukan hanya tentang datang dan berkumpul, tetapi tentang membawa pulang nilai untuk kemudian diteruskan di tempat masing-masing.
“Setiap perjalanan ini adalah pengingat, agar kita tidak pernah kehilangan arah dalam melanjutkan perjuangan,” tuturnya.
Haul Guru Tua ke-58 akan mencapai puncaknya pada 1 April 2026. Dari berbagai penjuru, jemaah terus berdatangan membawa rindu, menapaki perjalanan, dan menghidupkan kembali nilai yang telah diwariskan.
Pewarta: a6/in
Editor: Redaksi Interkini.co




