PendidikanSastra Reflektif

🌸 Di Pusaran Bundanya — Edisi 4: Doa yang Tak Pernah Dipelajari

“Doa ibu adalah bahasa yang tidak diajarkan, tapi selalu ditanamkan lewat tangan, lewat peluh, lewat cinta tanpa upacara.”

Waktu kecil, aku sering mendengar suara lirih dari balik tirai kamar. Bunda mengaji pelan, hampir seperti bisikan yang hanya untuk langit. Kadang terdengar suaranya tercekat. Kadang terdengar isak yang ditahan. Aku tak pernah berani masuk.

Hanya duduk di ambang pintu, mendengar bisikan yang menempel di udara, seperti aroma rempah dapur yang menenangkan, terlalu rindu untuk pergi.

Setelah dewasa, kenangan itu muncul kembali. Aku mulai bertanya pada diri sendiri:
Apa yang ia doakan malam-malam itu?
Mungkin namaku.
Mungkin namamu, kata Bunda dulu, “kalau kau nanti menikah.”
Mungkin hanya harapan agar esok masih bisa beli beras.

Tapi hari ini aku tahu:
Itulah doa yang tak pernah kupelajari dari buku, tak pernah diajarkan di sekolah, tak pernah diminta pun tetap dilangitkan.
Doa yang bukan soal hafalan, tapi soal pengorbanan.

Dan setiap kali aku mengulangnya, aku sadar: aku tidak menirunya. Aku sedang menjadi bagian dari warisan yang Bunda tanam di dalam dada.

Bersambung ke Edisi #5 pekan depan, dalam serial Di Pusaran Bundanya.

Catatan Penulis:
Tulisan ini adalah bagian dari serial fiksi reflektif berjudul Di Pusaran Bundanya, ditulis secara orisinal oleh redaksi interkini.co.

Tokoh, tempat, dan alur adalah rekaan semata. Jika ada kemiripan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk pada individu atau peristiwa nyata.

Hak cipta dilindungi. Dilarang menggandakan, menerbitkan ulang, atau memodifikasi isi tanpa izin tertulis dari redaksi interkini.co.

📢 Simak update berita menarik lainnya, ikuti Saluran WhatsApp Official kami klik di sini
Tampilkan lebih banyak

Artikel Terkait

Back to top button